TULUNGAGUNG – Di Tulungagung, tempe bukan sekadar lauk pelengkap. Tempe adalah denyut kehidupan, sumber harapan, bahkan bisa dibilang urat nadi ekonomi kampung. Dalam tiap iris tempe yang digoreng kering atau dibacem manis, tersimpan kisah ketekunan warga desa yang tak menyerah melawan zaman.
Sejak fajar menyingsing, kesibukan mulai terasa di sudut dapur rumah warga Desa Singgit, Kecamatan Bandung, Tulungagung. Kedelai direndam, direbus, lalu dicampur ragi dengan ketelitian yang tak kalah dari laboratorium.
Proses ini bukan hanya soal resep, tapi juga tentang kepekaan yang diwariskan dari generasi ke generasi di desa sisi selatan Tulungagung ini. “Kalau salah sentuh, tempenya bisa masam. Tapi kalau benar, baunya wangi seperti daun pisang muda,” kata Sarmi, sambil menata tempe-tempe segar yang baru jadi.
Tak banyak yang tahu, bahwa dari gang-gang kecil Tulungagung inilah muncul tempe yang kualitasnya diakui hingga ke luar provinsi.
Bahkan, beberapa pembeli dari Bali dan Kalimantan rutin memesan tempe produksi Tulungagung karena daya tahannya lebih lama dan rasanya lebih ‘ngemesi’ bahasa lokal yang berarti menggugah selera.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan produk instan, tempe Tulungagung tetap bertahan. Bahkan, berkembang.
Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Tulungagung mencatat kenaikan produksi tempe rumahan sebesar 22 persen dalam dua tahun terakhir. Bukan hanya karena harganya terjangkau, tapi karena tren gaya hidup sehat yang menjadikan tempe terutama dari Tulungagung sebagai primadona baru.
Yang unik, tempe di Tulungagung kini menjelma dalam berbagai rupa. Ada tempe kriuk kemasan kekinian, tempe sambal daun jeruk, hingga tempe frozen siap kirim. Para pemuda Tulungagung tak tinggal diam.
Mereka mulai memasarkan tempe via media sosial, dengan foto-foto apik dan caption menggoda. Siapa sangka, produk rumahan ini bisa mejeng di marketplace nasional hingga kirim ke luar negeri?
Namun, bukan Tulungagung namanya kalau tak tahan uji. Para produsen tempe sempat kesulitan saat harga kedelai melonjak tajam.
Tapi mereka tak menyerah. Beberapa beralih ke kedelai lokal, sebagian lagi membentuk koperasi agar bisa beli bahan baku secara kolektif. “Tempe ini bukan cuma bisnis, tapi amanah dari orang tua kami,” ujar Giman, tokoh desa yang dikenal sebagai ‘guru besar tempe’.
Baca Juga: Sering Dianggap Superfood, Berikut Fakta Gizi Tempe yang Jarang Diketahui
Apa yang terjadi di Tulungagung sesungguhnya adalah pelajaran berharga: bahwa produk lokal yang sederhana bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi yang luar biasa.
Tempe bukan hanya soal makanan, tapi tentang identitas, kemandirian, dan kerja keras warga Tulungagung yang tak pernah lelah merajut masa depan.
Dan mungkin, suatu saat nanti, ketika kita menikmati potongan tempe hangat di atas nasi putih yang mengepul, ingatlah bahwa ada secuil semangat Tulungagung di setiap gigitannya gurih, hangat, dan penuh cinta.(rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah