TULUNGAGUNG- Setiap menjelang Hari Raya Idul Adha, warga Tulungagung, Jawa Timur, memiliki cara tersendiri dalam merayakan dan menyambut momen sakral tersebut.
Salah satu tradisi yang masih lestari di Tulungagung dan selalu dinantikan adalah pawai oncor dan lampion, sebuah tradisi turun-temurun yang mencerminkan semangat keagamaan, budaya, dan kebersamaan masyarakat.
Di Tulungagung, oncor adalah obor tradisional yang terbuat dari batang bambu yang diisi minyak sebagai bahan bakarnya.
Biasanya, anak-anak dan remaja membawa oncor sambil berjalan bersama dalam sebuah arak-arakan yang dilakukan pada malam hari di Tulungagung.
Baca Juga: Tradisi Perkawinan Unik di Tulungagung Warisan Budaya yang Penuh Makna
Obor-obor menyala ini memberikan kesan hangat dan semarak, menimbulkan timbulnya cahaya yang membelah kegelapan malam.
Oncor tidak hanya menjadi simbol penerangan secara fisik, tetapi juga melambangkan penerangan batin dalam menyambut hari besar keagamaan.
Selain oncor, tradisi ini juga dimeriahkan dengan lampion-lampion besar, yang dirancang dengan sangat artistik.
Salah satu bentuk yang paling mencolok adalah lampion berbentuk gunungan wayang, berhias kaligrafi Arab yang menyala dari dalam.
Kaligrafi tersebut biasanya memuat lafaz-lafaz pujian kepada Allah atau potongan ayat suci Al-Qur'an.
Cahaya lampion ini menambah suasana khidmat dan mengingatkan akan makna spiritual dari Idul Adha pengorbanan, ketulusan, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Pawai ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Mereka mengenakan pakaian muslim, membawa oncor atau mengiringi lampion sambil bershalawat dan melantunkan lagu-lagu religi.
Tak jarang, grup rebana dan kesenian Islami lainnya juga turut tampil, menambah kemeriahan suasana malam.
Warga yang tidak ikut berjalan biasanya menyaksikan dari pinggir jalan atau halaman rumah mereka, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh kegembiraan.
Melalui kegiatan ini, mereka belajar tentang pentingnya menjaga dan menghormati nilai-nilai keagamaan serta budaya lokal.
Pawai ini juga menjadi ajang kreativitas, karena lampion-lampion yang biasanya ditampilkan dibuat secara gotong royong oleh kalangan warga, pelajar, atau pemuda masjid.
Baca Juga: Jam Karet ala Tulungagung Mitos atau Tradisi Tak Tertulis?
Setiap kelompok berusaha menampilkan karya terbaik mereka dengan desain yang unik dan penuh makna.
Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi seperti pawai oncor dan lampion menunjukkan bahwa kearifan lokal masih hidup dan dijaga dengan baik oleh masyarakat Tulungagung.
Tradisi ini bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang makna dan nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pawai ini menjadi simbol bahwa agama, budaya, dan kebersamaan dapat berjalan beriringan, mewujudkan kehidupan masyarakat sebagaimana oncor dan lampion yang mencapai malam menjelang Idul Adha.
Dengan semangat inilah, warga Tulungagung menyambut Hari Raya Idul Adha setiap tahunnya dengan cahaya, doa, dan kebersamaan. (*)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz