TULUNGAGUNG — Kepala Desa Keboireng, Supirin, akhirnya memenuhi panggilan dan menghadap langsung Kapolres Tulungagung, AKBP Muhammad Taat Resdi di Mapolres, Rabu (4/6/2025) pagi.
Pertemuan tersebut menjadi momen penting dalam membahas situasi terkini serta langkah penutupan aktivitas pendulangan emas liar di wilayah aliran sungai Keboireng Tulungagung.
Koordinasi ini dilakukan menyusul aksi maraknya pendulangan emas ilegal yang dalam dua hari terakhir menarik ratusan orang dari luar daerah Tulungagung.
Lokasi pendulangan yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Tulungagung ini sontak viral dan menimbulkan keresahan warga.
Baca Juga: Terendam Banjir Ancar, Begini Kondisi Garasi Kcunk Motor Tulungagung
“Setelah saya dipanggil dan menghadap Pak Kapolres bersama Kapolsek Besuki, kami menjelaskan kondisi sebenarnya di lapangan,” kata Supirin.
Dia mengaku, warganya resah, karena setiap malam ratusan orang datang dan bahkan menginap. Apalagi ditemukannya penggunaan air raksa oleh beberapa pendulang dari luar daerah.
Menurut dia, setelah menyampaikan laporan secara langsung, Kapolres Tulungagung mendukung langkah pemerintah desa untuk menutup lokasi demi keamanan lingkungan dan kesehatan warga.
Baca Juga: Di Tulungagung, Kenapa Banyak Seniman Patung dan Marmer Hebat Lahir di Campurdarat?
"Pak Kapolres menyampaikan, selama bisa diselesaikan secara kekeluargaan, pihak kepolisian mempersilakan kami bergerak dulu. Tapi jika memburuk, kepolisian siap turun tangan," jelasnya.
Penutupan lokasi dilakukan melalui kesepakatan bersama warga, tokoh masyarakat, BPD, dan unsur perangkat desa.
Salah satu kekhawatiran terbesar warga adalah kerusakan di sekitar sumber air Canglimo lokasi vital penyuplai air bersih untuk kebutuhan masyarakat Keboireng yang kini juga menjadi titik pendulangan emas.
Baca Juga: Pecinta Ramen di Kediri Merapat, Berikut Pilihan Restoran Paling Diburu
Pemerintah desa telah memerintahkan dan akan segera memasang sejumlah spanduk peringatan larangan pendulangan emas di titik-titik strategis.
Penjagaan di lokasi juga mulai diperketat dengan melibatkan Babinsa, Babinkamtibmas, serta unsur Perhutani.
"Ini bukan hanya soal emas, tapi soal keselamatan dan keinginan hidup warga kami. Kami tidak ingin ada konflik atau korban hanya karena euforia para pencarian emas," tutupnya. (rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah