TULUNGAGUNG – Warga Desa Suwaru, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, setiap Idul Adha rutin melaksanakan tradisi turun-temurun yang dikenal sebagai ambengan.
Untuk warga Tulungagung, istilah ambengan berasal dari kata ambeng dalam bahasa Jawa, yang merujuk pada nasi yang disajikan saat acara selamatan atau perayaan adat.
Tradisi ambengan ini menjadi ciri khas warga Suwaru yang berada di sisi selatan Tulungagung ini dalam perayaan Hari Raya Idul Adha, yang menunjukkan rasa syukur sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.
Dalam tradisi ambengan, setiap rumah di Desa Suwaru membawa hidangan nasi gurih yang dimasak dengan santan.
Lengkap dengan lodho ayam atau ayam kampung utuh yang dibakar dan dimasak dalam kuah santan berempah khas Tulungagung.
Tidak hanya itu, warga juga menambahkan lauk pauk seperti gudangan, serundeng, dan kue apem sebagai pelengkap.
Semua hidangan tersebut kemudian dibawa ke masjid atau musala terdekat setelah salat Idul Adha untuk dinikmati bersama-sama.
Ambengan dibawa dalam ember plastik besar, sebuah wadah sederhana yang menjadi simbol kesederhanaan warga setempat.
Hidangan ini biasanya disantap bersama oleh empat orang yang duduk melingkar, makan langsung dari satu wadah.
Di sinilah letak kekuatan ambengan sebagai ritual yang tidak hanya soal makanan, tapi juga simbol persaudaraan dan solidaritas.
Makanan yang tersisa biasanya tidak dibuang begitu saja.
Warga akan membungkusnya dengan daun pisang atau kertas nasi untuk dibawa pulang agar berkah Idul Adha ini juga bisa dirasakan oleh keluarga di rumah.
Baca Juga: Lebaran Kurban di Tulungagung, dari Makna Ibadah hingga Tips Menyimpan Daging Agar Tetap Awet
Setelah pelaksanaan salat Idul Adha, tradisi ambengan menjadi momen penting untuk berkumpul dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Meskipun perkembangan zaman dan modernisasi terus berjalan, tradisi ini masih dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari ciri khas warga Suwaru Tulungagung hingga saat ini.
Melalui tradisi ambengan, masyarakat tidak hanya melestarikan kebiasaan turun-temurun.
Namun, juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan semangat berbagi antarsesama.
Tradisi ini patut terus dijaga dan dilestarikan demi keberlanjutan kearifan lokal bagi generasi mendatang. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah