Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Fenomena Unik di Tulungagung ketika Warga Gelar Hajatan

Yoga Dany Damara • Kamis, 12 Juni 2025 | 08:00 WIB

 

ilustrasi acara hajatan ada tukang parkir
ilustrasi acara hajatan ada tukang parkir

TULUNGAGUNG- Tulungagung, sebuah kabupaten di Jawa Timur yang dikenal dengan keramahan warganya dan tradisi gotong royong yang kuat, kembali mencuri perhatian publik dengan sebuah fenomena unik yang terjadi di tengah masyarakat.

Di balik hiruk-pikuk pesta pernikahan atau hajatan lain yang meriah, terselip sebuah kebiasaan sosial di Tulungagung yang begitu menarik munculnya warga yang mendadak beralih profesi menjadi tukang parkir dadakan.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal saat hajatan digelar di Tulungagung.

Baca Juga: Lima Lagu Campursari Favorit di Tulungagung yang Selalu Jadi Andalan saat Hajatan, Nomor Terakhir Digandrungi Anak Muda

Setiap kali sebuah hajatan berlangsung di kampung-kampung Tulungagung, baik itu pernikahan, khitanan, atau syukuran, suasana lingkungan langsung berubah menjadi lebih hidup.

Rumah yang menjadi pusat hajatan akan ramai dikunjungi tamu, bahkan hingga puluhan atau ratusan orang. Kondisi ini secara otomatis membuat lalu lintas di sekitar lokasi menjadi padat.

Namun yang mengejutkan, tanpa perlu instruksi resmi, beberapa warga, biasanya para pemuda atau bapak-bapak akan dengan sigap turun tangan menjadi tukang parkir dadakan.

Baca Juga: Mitos Bulan Selo: Mengapa Warga Tulungagung Enggan Gelar Pernikahan?

Mereka mengenakan rompi atau kaus biasa, membawa peluit, dan mulai mengatur kendaraan tamu agar tertata rapi di sepanjang jalan kampung.

Mereka bahkan membantu membuka pintu mobil, menunjukkan arah tempat parkir yang kosong, dan sesekali bersenda gurau dengan para tamu.

Yang lebih unik lagi, mereka seringkali melakukannya secara sukarela, tanpa permintaan dari pemilik hajatan.

Meski sebagian tamu secara sukarela memberikan uang parkir sebagai bentuk terima kasih  biasanya seribu hingga lima ribu rupiah namun motivasi utama para warga ini bukanlah soal imbalan materi.

“Daripada bengong di rumah, mending bantu-bantu,” ujar salah satu warga, Pak Yanto, yang kerap menjadi tukang parkir dadakan di kampungnya. “Kalau rame begini kan jadi seru. Bisa ketemu banyak orang juga.”

Baca Juga: Fenomena Marriage Is Scary dan Ketakutan Baru Perempuan Modern Terhadap Pernikahan, Apakah Wajar Takut Menikah?

Ada pula unsur solidaritas sosial yang kuat di balik fenomena ini. Di masyarakat Tulungagung, membantu saat tetangga punya hajatan dianggap sebagai bentuk dukungan dan rasa hormat.

Bagi sebagian warga, ikut mengatur parkir adalah cara mereka berkontribusi, sementara yang lain memilih bantu di dapur, mendirikan tenda, atau menjaga logistik.

Namun demikian, tak dapat dimungkiri bahwa bagi sebagian warga, fenomena ini juga menjadi peluang ekonomi musiman. Terutama bagi mereka yang sedang menganggur atau membutuhkan tambahan penghasilan.

Dalam satu hajatan besar, mereka bisa mendapat uang puluhan hingga ratusan ribu rupiah hanya dalam beberapa jam. Tak heran jika saat musim hajatan, biasanya setelah panen raya atau menjelang libur panjang banyak warga yang ‘berburu’ hajatan untuk menjadi tukang parkir dadakan.

Baca Juga: Makna Perlengkapan Tedhak Siten, Tradisi Jawa yang Penuh Nilai Kehidupan

Menariknya, aktivitas ini tidak menimbulkan konflik. Justru, para pemilik hajatan sering merasa terbantu dengan kehadiran mereka. Beberapa bahkan secara khusus meminta bantuan warga untuk menjaga kendaraan tamu, demi keamanan dan kelancaran acara.

Fenomena tukang parkir dadakan di Tulungagung ini seolah menjadi potret kecil dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, kesetiakawanan, dan spontanitas dalam membantu sesama.

Tidak perlu surat tugas, tidak butuh seragam resmi, namun kepedulian sosial tumbuh dengan alami dari kebersamaan.

Di era urbanisasi yang sering kali membuat interaksi sosial menjadi dingin dan kaku, praktik seperti ini menjadi pengingat bahwa di banyak pelosok Indonesia, semangat kolektivitas masih hidup dan nyata.

Bahkan dalam hal sederhana seperti memarkirkan kendaraan, nilai-nilai kebersamaan bisa menjadi fondasi yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat.

Tulungagung bukan hanya terkenal karena keindahan alam dan budayanya, tapi juga karena masyarakatnya yang memiliki jiwa sosial tinggi.

Fenomena warga yang tiba-tiba menjadi tukang parkir saat hajatan adalah contoh nyata bahwa di balik kegiatan sehari-hari, tersimpan nilai-nilai luhur yang tak ternilai. Dan mungkin, inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya sederhana, gotong royong, dan saling peduli. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tukang parkir #tulungagung #hajatan