TULUNGAGUNG – Rusaknya jembatan di Desa Suwaru, Kecamatan Bandung, pada Rabu (12/6) pagi memutus akses mobilitas masyarakat sekitar. Buntutnya, warga harus mengambil rute alternatif yang lebih jauh saat berkegiatan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tulungagung, Gilang Zelakusuma menerangkan, jembatan Suwaru menghubungkan dua wilayah rukun tetangga (RT) dalam satu dusun.
“Di situ ada sekitaran satu RT. Ini sudah tidak bisa digunakan lagi, sudah ditutup total,” sebutnya.
Baca Juga: Kapolri dan Panglima TNI Beri Kejutan Tanpa Naskah dan Aba-Aba saat Hadir di Unhan RI
Begitu jembatan ambrol pada Rabu pagi, warga mengambil rute alternatif untuk beraktivitas sehari-hari. Tapi, rute yang dimaksud berjarak lebih jauh dari akses jembatan yang rusak.
“Sebenarnya masih ada alternatif. Memutar masih bisa untuk akses sehari-hari. Ya sekitaran segitu (1 kilometer),” kata Gilang.
Proses asesmen masih berlangsung. BPBD juga perlu menggelar koordinasi lebih intens dengan pihak terkait untuk menentukan langkah pascabencana.
“Sementara kita masih lakukan asesmen dan koordinasi dengan pihak terkait. Sementara seperti itu,” terangnya.
Baca Juga: Di Kampus Unhan RI, Momen Haru Lagu Kebangsaan Palestina Menggema Penuh Hormat
Disinggung soal kemungkinan perbaikan, Gilang mengaku bahwa kebijakan soal teknis perbaikan jembatan harus dikaji dan dibahas bersama dengan sejumlah OPD terkait, termasuk dinas PUPR.
“Tetap koordinasi dengan pihak terkait,” paparnya.
Sebelum dilaporkan ambrol, kondisi jembatan di Desa Suwaru memang cukup mengkhawatirkan.
Sejumlah retakan tampak di beberapa bagian jembatan. Sehingga, begitu terjadi peningkatan intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir, debit air sungai mulai meningkat.
Kondisi itu membuat struktur penahan jembatan terus mengalami pengikisian hingga akhirnya ambrol pada Rabu lalu.
Luapan air sungai membawa berbagai material yang sebagian besar merupakan kayu dan mengenai struktur jembatan.
Hal ini diduga mempercepat kerusakan Jembatan Suwaru. Beruntung tidak dilaporkan adanya korban luka maupun jiwa dalam kejadian ini.
“Panjang jembatan sekitar 25 meter, kemudian lebar jembatan sekitar 1,5 meter. Sudah lama, memang retak kemudian kemarin kena kayu (dan) bambu itu akhirnya patah yang di ujung. Kemungkinan ada (lebih dari setahun rusak),” ujarnya.
Data yang dihimpun, hujan deras yang terjadi sejak Selasa (10/6/2025) di wilayah Kecamatan Bandung mengakibatkan talud dan jembatan ke arah makan dan perkampungan di Desa Suwaru rusak pada Rabu pagi. Tepatnya, sekitar pukul 8.00.
Kejadian ini segera dilaporkan kepada BPBD dan sejumlah pihak berwenang lain. Setibanyak di lokasi, petugas gabungan segera melakukan rangkaian tindakan, utamanya asesmen dan pengamanan.
Usai dilakukan evaluasi, akhirnya dibuat kebijakan untuk menutup akses jembatan hingga adanya perbaikan atau penanganan lanjutan. Hal ini dilakukan untuk menghindari munculkan korban. (dit)
Editor : Aditya Yuda Setya Putra