Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Wayang dan Ludruk di Desa-Desa Tulungagung Masihkah Diminati Anak Muda?

Yoga Dany Damara • Sabtu, 14 Juni 2025 | 17:00 WIB
Wayang dan ludruk masih menari, meski pelan, di hati sebagian anak muda yang enggan lupa pada akar budayanya di Tulungagung.
Wayang dan ludruk masih menari, meski pelan, di hati sebagian anak muda yang enggan lupa pada akar budayanya di Tulungagung.

TULUNGAGUNG - Di tengah gegap gempita hiburan digital dan derasnya budaya luar yang masuk melalui layar ponsel, siapa sangka masih ada panggung-panggung kecil di sudut-sudut desa Tulungagung yang tetap hidup dengan semangat, tawa, dan gamelan yang menggema.

Di sanalah, wayang dan ludruk masih menari, meski pelan, di hati sebagian anak muda yang enggan lupa pada akar budayanya di Tulungagung.

Di suatu malam bulan purnama, di sebuah lapangan kecil Desa/Kecamatan Ngunut, Tulungagung kerumunan mulai terbentuk.

Bukan untuk konser K-pop atau lomba game online, tapi untuk menyaksikan wayang kulit. Panggung sederhana dari bambu dan terpal berdiri gagah, dengan lampu petromaks yang berpendar hangat.

Di balik layar, seorang dalang muda bernama Bagas—baru berusia 25 tahun—bersiap memainkan kisah Ramayana.

“Saya belajar dari mbah saya. Awalnya cuma iseng, tapi lama-lama cinta,” kata Bagas sambil tertawa.

Dia mengaku tak menyangka masih banyak anak muda yang datang, bahkan ikut menjadi kru dan penabuh gamelan. “Kalau dibungkus dengan pendekatan kekinian, mereka ternyata mau kok,” jelasnya

Sementara itu di Desa Campurdarat, grup ludruk "Singo Budoyo" tengah sibuk bersiap untuk pentas mingguan.

Uniknya, pentas mereka kini tak hanya berlangsung di balai desa, tapi juga ditayangkan live di Instagram dan TikTok.

Pemeran utama, Rara, seorang mahasiswi semester akhir, menjadi daya tarik tersendiri. Dengan gaya ceplas-ceplos dan logat khas Jawa Timuran, ia sukses memikat penonton dari berbagai kalangan.

“Kita bikin cerita-cerita yang relate sama anak muda. Misalnya soal cinta beda desa, perjuangan lulus kuliah, sampai isu lingkungan,” jelas Rara.

“Tapi tetap pakai gaya ludruk—jenaka, nyeleneh, dan penuh sindiran halus,” tandasnya.

Wayang dan ludruk di desa-desa Tulungagung mungkin tak lagi seramai dulu. Tapi mereka belum mati.

Justru kini sedang bertransformasi dari panggung bambu ke panggung digital, dari cerita klasik ke kisah sehari-hari. Para pelaku seni muda mulai menyadari bahwa budaya bisa tetap hidup, asalkan diberi ruang dan disentuh dengan cara yang segar.

Tidak sedikit komunitas anak muda yang kini membuat konten edukatif tentang budaya Jawa di YouTube, atau membuat meme wayang di Instagram. Beberapa sekolah juga mulai memasukkan pementasan ludruk ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, dengan harapan mengenalkan seni ini sejak dini.

Cerita dari panggung-panggung kecil ini adalah bukti bahwa budaya lokal tak pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu disentuh kembali dengan cinta, kreativitas, dan keberanian untuk mengemasnya ulang.

Mungkin, di Tulungagung yang terus bertumbuh, tak semua anak muda bisa memainkan gamelan atau melantunkan tembang Jawa.

Tapi selama masih ada yang mau duduk menonton, tertawa bersama, atau sekadar mengunggah potongan video ludruk ke media sosial, maka warisan itu belum hilang.

Wayang dan ludruk mungkin tak lagi menjadi arus utama, tapi mereka tetap jadi arus bawah yang mengalir tenang menyuburkan jati diri, dan mengingatkan kita dari mana kita berasal. (*)

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#wayang #tulungagung #ludruk #instagram #anak muda #youtube