TULUNGAGUNG- Salah satu kurator Festival Budaya Spiritual (FBS) 2025 di Tulungagung, Benny Widyo, merasa tidak ditempatkan secara utuh dan setara dalam proses perumusan arah dan konsep festival.
Dia menegaskan, semangat awal Festival Budaya Spiritual di Tulungagung sebagai ruang pemersatu seluruh elemen masyarakat jangan sampai luntur karena kepentingan segelintir kelompok.
“Saya sangat sejalan dengan semangat bahwa festival ini di Tulungagung semestinya menjadi ruang pemersatu dan milik bersama, bukan dikendalikan oleh segelintir kelompok. Jika gotong royong tidak dijaga, maka risiko yang muncul justru memperpanjang konflik dan memperkeruh suasana,” ujarnya ketika dikonfirmasi Jumat (13/6/2025).
Benny melanjutkan, dalam kondisi seperti itu, akan lebih bijak jika pelaksanaan festival ini di Tulungagung ditinjau ulang atau bahkan dikembalikan ke Direktorat KMA Kementerian Kebudayaan sebagai inisiator awal program.
Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap eksklusivitas penyusunan program FBS yang dinilai belum melibatkan banyak pihak secara utuh.
Menurut dia, kerja kuratorial dalam FBS Tulungagung saat ini belum ditempatkan secara setara, padahal posisi kurator semestinya menjadi simpul konseptual dan representatif dari arah kebudayaan yang ingin dibangun.
“Saya memahami bahwa posisi ‘kurator’ ini masih hal baru di lingkungan seni budaya Tulungagung, apalagi bagi lembaga pemerintah. Tapi justru karena itu, semestinya ada dialog dan kejelasan peran,” ungkapnya.
Dia sendiri sedang berupaya menjaga keseimbangan antara unsur perayaan dan seremoni dalam FBS Tulungagung dengan kerja kebudayaan yang lebih substansial. Hal itu mencakup riset, edukasi, penerbitan, serta aspek keberlanjutan pasca festival.
“Inklusivitas juga menjadi perhatian saya. Bukan hanya soal keterwakilan usia dan gender, tetapi juga melibatkan komunitas difabel. Misalnya, menyediakan juru bahasa isyarat di sesi diskusi dan lokakarya,” paparnya.
Pernyataan Benny memperkuat suara sejumlah tokoh yang menyerukan agar FBS benar-benar menjadi ruang bersama yang terbuka dan adil.
Termasuk Den Tura dari kalangan penghayat, yang sebelumnya juga menegaskan bahwa festival ini harus menjadi sumbu toleransi dan pelestarian tradisi spiritual, bukan ajang dominasi kelompok tertentu.
Dengan pernyataan terbuka dari para kurator, publik kini menanti langkah konkret dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung untuk merespons dan menjembatani berbagai suara demi terwujudnya FBS yang inklusif dan representatif. (sri/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah