TULUNGAGUNG- Enam bulan belajar di Negeri Formosa bukan sekadar tentang ilmu kedokteran jantung mutakhir bagi dokter asal Tulungagung, dr Fitranti Suciati Laitupa, SpJP(K).
Lebih dari itu, perjalanan akademik ke National Taiwan University Hospital (NTUH) juga membawanya menyerap nilai-nilai luhur tentang kedisiplinan, toleransi, dan gaya hidup sehat yang mendalam dan diterapkan di Tulungagung.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di RSUD dr Iskak Tulungagung ini menempuh pendidikan lanjutan (fellowship) pencitraan kardiologi di rumah sakit terbaik se-Asia Pasifik versi Newsweek.
Program ini dijalaninya berkat beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, berlangsung sejak 1 Desember 2024 hingga 31 Mei 2025.
“Saya merasa bersyukur bisa belajar di NTUH. Proses administratifnya mudah karena ada kerjasama pemerintah Indonesia dengan Taiwan yang sudah terjalin lama, khususnya dalam bidang kesehatan,” tutur dr Fitranti.
Namun, tak hanya tentang CT-scan atau MRI jantung yang dipelajarinya. Dalam perjalanannya, dokter berusia 39 tahun ini juga terkesan dengan etos dan kultur masyarakat Taiwan.
Dia menilai banyak hal yang patut ditiru dan dibawa pulang ke tanah air, khususnya ke lingkungan tempatnya bekerja dan tinggal.
Keteraturan lalu lintas, kepatuhan pada rambu, hingga budaya tepat waktu, menurutnya, adalah gambaran nyata bagaimana masyarakat Taiwan menjunjung tinggi kedisiplinan.
“Naik ekskalator saja harus sesuai jalurnya, kanan untuk berdiri, kiri untuk yang ingin jalan cepat. Priority seat benar-benar dipatuhi. Bahkan ketika teman saya hendak mengajak polisi berfoto, ia menolak karena masih dalam jam kerja,” kenangnya.
Budaya ini juga tercermin di lingkungan kerja rumah sakit. Tidak ada obrolan santai saat jam kerja. Semua fokus. Waktu istirahat pun digunakan sebagaimana mestinya.
“Ketepatan waktu adalah harga mati di sana. Bahkan kalau dosen telat 15 menit saja, mereka akan mengabari dan minta maaf terlebih dulu,” tambahnya.
Toleransi juga menjadi hal yang mengesankan. Taiwan terbuka terhadap keragaman turis dan pendatang.
Baca Juga: Peringati HUT Ke-107 RSUD dr Iskak, Direksi dan Manajemen Ziarah ke Makam dr Iskak
Menurut dia, sekitar 400 ribu warga Indonesia tinggal di sana, termasuk para pekerja migran yang diperlakukan dengan baik.
“Kita bisa dengan mudah bertanya tentang musala atau makanan halal, dan mereka menjawabnya dengan ramah. Saya hampir tidak pernah mendengar kekerasan terhadap WNI di sana,” ujarnya.
Bahkan, dalam dunia pendidikan pun, dia tidak mendengar praktik senioritas atau perundungan. Sekolah negeri di Taiwan juga tidak memungut biaya, sebuah kebijakan yang menunjukkan perhatian terhadap pendidikan.
Gaya hidup sehat yang mendarah daging adalah salah satu yang paling mencolok di sana. Menurutnya hal ini sudah menjadi kebiasaan hidup sehat masyarakat Taiwan.
Jalan kaki, bertransportasi publik, dan minimnya kendaraan pribadi membuat kota seperti Taipei nyaris bebas macet.
“Orang berjalan 4-5 km sehari itu biasa, bahkan diusia lanjut. Di rumah sakit Taiwan, penyakit yang ditangani mayoritas bukan karena gaya hidup buruk,” jelasnya.
Dia menilai, budaya sehat seperti itu berakar dari kesadaran kolektif yang dibangun sejak dini. Dan tentu saja, dari sistem yang mendukung.
Dia bertekad untuk membawa pulang yang baik dari negeri orang.
Setelah menyelesaikan programnya, dr Fitranti ini berkomitmen untuk mengimplementasikan ilmunya di RSUD dr. Iskak.
Pencitraan kardiologi yang didalaminya akan sangat bermanfaat bagi deteksi dini dan penanganan penyakit jantung di Tulungagung.
Namun lebih dari itu, dia berharap bisa menularkan nilai-nilai positif yang didapatnya selama di Taiwan kepada rekan kerja, lingkungan sekitar, bahkan pasien-pasiennya.
“Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Di mulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan dari sekarang. Itu yang saya pelajari,” pungkasnya. (sri/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah