TULUNGAGUNG- Ada hal yang nyaris pasti terjadi kalau kamu ketemu teman lama di Tulungagung.
Apalagi yang sudah lama nggak ketemu sejak lulus sekolah di Tulungagung pertanyaan-pertanyaan “pamungkas” yang keluar tanpa basa-basi panjang.
Suasana bisa jadi akrab dalam hitungan detik karena teman lama di Tulungagung, tapi juga canggung dalam sekejap, tergantung siapa yang ditanya.
Pertanyaan paling legendaris?“Wes duwe anak piro?” Yes, ini bukan sekadar basa-basi. Di Tulungagung dan banyak daerah lain di Jawa Timur pertanyaan soal anak, kerjaan, dan domisili jadi pembuka yang paling umum saat temu kangen.
Seolah-olah, status hidup itu cuma tinggal dicentang satu per satu Sudah nikah? Sudah punya anak? Kerja di mana? Tinggal e ndi saiki?
Buat sebagian orang, ini bisa terasa akrab. Obrolan ngalor-ngidul yang terasa seperti nostalgia, ditambah logat khas Tulungagung yang medok dan santai.
Tapi buat yang mungkin belum “sesuai ekspektasi sosial”—belum menikah, masih cari kerja, atau justru lagi galau karena LDR—pertanyaan ini bisa menohok pelan-pelan.
Namun begitu, niat di balik pertanyaan itu jarang yang benar-benar ingin menghakimi. Orang Tulungagung cenderung punya rasa kepo yang dibalut kepedulian.
“Kok durung nikah?” bisa jadi sinyal, “Kalau butuh dikenalin, aku punya kenalan loh.” Atau, “Kerja di mana saiki?” bukan buat pamer, tapi buat tahu kabar.
Yang menarik, semua ini disampaikan dengan gaya ceplas-ceplos yang khas. Kadang bikin ketawa, kadang bikin mikir. Contoh obrolan klasik:“Kok isih langsing ae, ra ketok duwe anak.”“Ngene iki nek uripmu ayem, ora kayak aku, anak telu koyok pasar pindah nang omah.”
Satu obrolan bisa berubah jadi sesi curhat, saling berbagi tips hidup, bahkan tukeran nomor buat arisan atau reunian.
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah jadi bagian dari budaya ngobrol di kampung. Di warung kopi, di acara manten, atau pas ketemu di pasar, obrolan seputar keluarga dan kerjaan memang jadi topik utama.
Di balik pertanyaan itu sebenarnya ada rasa ingin tetap terhubung, walau jalur hidup sudah beda-beda.
Kalau kamu jadi “target” pertanyaan-pertanyaan ini, nggak usah baper. Jawab saja dengan santai dan seperlunya. Kadang, justru dari obrolan singkat itu kamu bisa dapet kabar penting, peluang kerja, atau bahkan… jodoh? Siapa tahu.
Karena di Tulungagung, obrolan kecil bisa membawa cerita panjang. Dan siapa pun kamu hari ini, kamu tetap bagian dari kisah besar yang disebut: dulur lawas. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah