Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kenapa Banyak Warga Tulungagung yang Hobi Koleksi Burung? Ternyata Ada Filosofinya!

Yoga Dany Damara • Senin, 16 Juni 2025 | 14:00 WIB

 

Warga Tulungagung banyak koleksi burung di rumahnya sebagai hewan peliharaan.
Warga Tulungagung banyak koleksi burung di rumahnya sebagai hewan peliharaan.

TULUNGAGUNG - Di banyak sudut kampung dan gang kecil Tulungagung, suara kicauan burung sudah seperti backsound harian.

Biasanya yang sering di suduh kampung Tulungagung suara murai batu yang nyaring, cucak ijo yang ramai, sampai lovebird dengan nada-nada centilnya semuanya jadi bagian dari gaya hidup yang tak lekang oleh zaman.

Tapi sebenarnya, kenapa sih banyak warga Tulungagung yang hobi memelihara dan mengoleksi burung? Apakah hanya karena suaranya merdu? Atau ada makna lebih dalam?

  1. Bukan Sekadar Hobi, Tapi Simbol Kesabaran dan Ketelatenan

Memelihara burung itu butuh waktu, perhatian, dan kesabaran tingkat tinggi. Harus bangun pagi buat jemur, rutin memberi makan, sampai rajin melatih mental dan suara.

Di sinilah filosofi hidup orang Tulungagung berperan—yang menjunjung tinggi nilai ketekunan. Seolah burung menjadi cerminan hidup: dirawat dengan telaten, kelak akan memberi "suara emas."

  1. Makna Sosial: Ajang Gaul ala Bapak-Bapak

Di warung kopi atau pojokan kampung, jangan heran kalau obrolan soal burung bisa berlangsung berjam-jam.

Ini bukan hanya soal kicauannya, tapi soal relasi. Komunitas burung kicau jadi wadah silaturahmi, tukar informasi, hingga saling pamer burung jagoan. Ada semacam gengsi dan kebanggaan jika burung peliharaan menang lomba atau punya suara yang diakui sesama pehobi.

  1. Filosofi “Manuk Duwe Rejeki”

Dalam budaya Jawa, termasuk Tulungagung, burung sering dihubungkan dengan rezeki. Banyak yang percaya bahwa memelihara burung bisa membawa hoki.

Suara burung yang ramai dipercaya sebagai pertanda rumah yang “urip” (hidup), berkah, dan dijauhkan dari energi negatif. Bahkan ada mitos bahwa burung yang tiba-tiba diam atau gelisah bisa jadi “penanda” sesuatu akan terjadi.

  1. Warisan Budaya yang Tak Tertulis

Hobi ini juga seperti tradisi turun-temurun. Anak belajar dari bapaknya, lalu kelak mewariskannya lagi.

Jadi jangan kaget kalau dari kecil sudah ada anak-anak yang bisa membedakan jenis suara burung atau hafal harga pasaran anis merah. Di Tulungagung, ini jadi semacam pelajaran hidup nonformal.

  1. Bisnis yang Menguntungkan

Jangan salah, dunia perburungan bukan cuma soal suara, tapi juga cuan. Ada yang beternak burung, jual sangkar custom, sampai menjadi juri lomba kicau. Bagi sebagian warga, ini bukan cuma hobi, tapi juga ladang rezeki yang menjanjikan. Bahkan ada burung yang harganya bisa setara motor!

Hobi koleksi burung di Tulungagung ternyata menyimpan lapisan makna yang dalam. Bukan sekadar kesenangan pribadi, tapi juga sarana sosial, filosofi hidup, hingga jalan rezeki. Di balik sangkar kecil itu, tersimpan nilai-nilai besar tentang ketekunan, kebersamaan, dan harapan.

Maka jangan heran, meski zaman makin canggih, suara burung tetap jadi “soundtrack” khas kehidupan warga Tulungagung—sekaligus pengingat bahwa yang kecil bisa membawa makna besar.

Kalau kamu lewat Tulungagung dan dengar suara burung dari rumah-rumah penduduk, kini kamu tahu: itu bukan sekadar bunyi, tapi kisah hidup yang terus berkicau. (*)

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #murai batu #burung #merdu