Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kebiasaan Jemur Baju di Depan Rumah ala Warga Tulungagung Antara Estetika, Logika, dan Ciri Khas Kampung

Yoga Dany Damara • Rabu, 18 Juni 2025 | 14:44 WIB
Di Tulungagung, ada pemandangan yang begitu akrab dan khas: jemuran baju berjejer rapi di pagar rumah, menggantung di dahan pohon, bahkan kadang bertengger manis di pagar mushola.
Di Tulungagung, ada pemandangan yang begitu akrab dan khas: jemuran baju berjejer rapi di pagar rumah, menggantung di dahan pohon, bahkan kadang bertengger manis di pagar mushola.

TULUNGAGUNG- Di Tulungagung, ada pemandangan yang begitu akrab dan khas: jemuran baju berjejer rapi di pagar rumah, menggantung di dahan pohon, bahkan kadang bertengger manis di pagar mushola.

Buat orang luar Tulungagung, ini mungkin tampak 'nyeleneh'.

Tapi bagi warga lokal Tulungagung, ini justru bagian dari logika hidup kampung yang sederhana dan praktis.

Jemuran yang nampang di pagar rumah bukan cuma soal penghematan ruang. Ini soal strategi. Matahari pagi paling mantap memang jatuh di bagian depan rumah. Jadi, kenapa harus ke belakang kalau sinar mentari lebih dekat di pagar?

Lagipula, ada rasa bangga tersendiri saat daster bunga-bunga atau sarung wangi melambai-lambai di depan rumah. Sebuah pameran tekstil mini yang jujur dan apa adanya. Ada juga yang bilang, itu jadi semacam "tanda kehidupan" rumah — kalau ada jemuran, berarti penghuninya aktif dan rumah bukan kosong.

Pohon mangga di halaman? Selain tempat nongkrong ayam, fungsinya yang paling top ya buat gantung jemuran. Dahan-dahan kokoh bisa menampung beberapa potong baju sekaligus. Bahkan, tiang listrik kadang juga dilirik sebagai solusi darurat kalau jemuran terlalu penuh. Kreatif? Jelas. Praktis? Banget.

Ada kalanya warga dengan santainya numpang jemur di pagar mushola atau bangunan kosong pinggir jalan. Mungkin karena rumah sempit, mungkin karena jemuran sendiri udah overload. Tapi nggak ada yang marah.

Semua maklum. Di kampung, toleransi soal jemuran itu tinggi, asal jangan jemur celana dalam di tempat yang terlalu strategis aja.

Kalau diperhatikan, pemandangan jemuran di kampung itu punya nilai estetika tersendiri. Warna-warni daster, handuk, dan kaos anak-anak membentuk kolase acak yang hidup. Kadang malah lebih "nyeni" dari mural modern.

Ada semacam kejujuran visual di sana — bahwa kehidupan itu sedang berjalan, cucian masih numpuk, dan mesin cuci tetap setia kerja keras tiap pagi.

Kebiasaan jemur baju di depan rumah ini mungkin sederhana, tapi menyimpan filosofi lokal yang dalam. Ini soal efisiensi, kebersamaan, dan cara warga kampung menjawab tantangan ruang terbatas dengan solusi kreatif.

Kadang, yang terlihat remeh justru paling merepresentasikan gaya hidup dan nilai-nilai sebuah tempat.

Jadi, kalau ke Tulungagung dan lihat jemuran berjejer di pagar, jangan heran. Mungkin itu bukan cuma cucian, tapi juga ekspresi hidup yang jujur dan merdeka. (*)

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #rumah #baju