TULUNGAGUNG - Tradisi sapaan yang nggak harus berdarah, tapi tetap akrab seperti keluarga kalau kamu main ke Tulungagung dan dengar anak muda dipanggil "Pak Dhe", jangan buru-buru kaget.
Di Tulungagung, sapaan seperti "Pak Dhe", "Bu Dhe", "Mbak", "Mas", bahkan "Lek" atau "Pak Lik" sering digunakan untuk orang-orang yang bahkan bukan kandung keluarga.
Fenomena ini jadi bagian dari budaya khas Tulungagung yang membuat komunikasi terasa lebih hangat, akrab, dan penuh rasa hormat.
Baca Juga: Fenomena Motor Bonceng 3 Seni Berkendara atau Akrobat Jalanan ala Tulungagung?
Uniknya, panggilan “Pak Dhe” atau “Bu Dhe” di sini nggak selalu ditujukan untuk orang yang lebih tua.
Kadang-kadang yang dipanggil “Pak Dhe” justru masih berusia 30-an, bahkan ada yang belum punya ponakan asli.
Tapi karena dia lebih dianggap dewasa, dituakan di lingkungan, atau sekadar teman bapaknya, sapaan itu pun melekat.
Baca Juga: Hubungan Puncak Keunikan Fenomena Strawberry Moon dan Budaya Suku Asli Amerika
Orang Tulungagung terbiasa menjalin hubungan sosial yang erat melalui sapaan kekerabatan.
Meski bukan keluarga sedarah, mereka menciptakan rasa kekeluargaan dengan memanggil orang sekitar seolah-olah masih satu silsilah.
Kadang-kadang untuk menunjukkan rasa hormat, kadang juga untuk membangun keakraban.
Misalnya, tetangga sebelah rumah bisa dipanggil “Bu Dhe” atau “Pak Lik”, dan itu sudah dianggap biasa.
Baca Juga: Fenomena Unik di Tulungagung ketika Warga Gelar Hajatan
Bagi warga lokal, sapaan ini bukan sekedar kebiasaan, tapi juga mencerminkan posisi sosial.
Panggilan “Pak Dhe” bisa menunjukkan bahwa seseorang dianggap lebih tua, lebih berpengalaman, atau dituakan meski secara usia tidak terlalu jauh berbeda.
Ini juga bisa jadi bentuk penghormatan tanpa harus terlalu formal.
Bagi orang luar Tulungagunh, mendengar banyak “Pak Dhe” di satu lingkungan terkadang membuat bingung.
Mana yang benar-benar paman, mana yang cuma tetangga? Tapi di situlah serunya: kamu bisa merasa seperti bagian dari keluarga besar, meski baru kenal.
Apalagi kalau sudah ikut kumpulan warga atau arisan RT, semua seperti saudara.
Fenomena ini adalah potret kecil dari bagaimana masyarakat Tulungagung menjaga kehangatan sosial melalui bahasa.
Mereka tidak selalu memanggil nama, tapi justru lewat sapaan yang membuatnya merasa bersyukur dan diterima.
Unik ya? Dan bisa jadi, ini salah satu alasan mengapa banyak orang beta tinggal di kota kecil yang penuh keakraban ini.
Jadi, kalau kamu lagi di Tulungagung dan tiba-tiba dipanggil “Pak Dhe” padahal belum nikah, santai aja.
Anggap itu sebagai tanda kamu sudah dianggap "keluarga" oleh lingkungan sekitar.
Di dalamnya nilai dari kebiasaan kecil yang menyatukan—tanpa perlu pertalian darah, namun tetap terasa dekat di hati. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah