TULUNGAGUNG- Bagi sebagian orang, Pasar Hewan Tulungagung hanyalah deretan kandang sapi, kambing, atau ayam yang ditawarkan untuk dijual.
Namun, di balik itu, ada dunia unik di Tulungagung yang dipenuhi “blantik” sebutan untuk para makelar atau pedagang hewan yang menjalani profesi ini dengan penuh gaya dan keahlian.
Sejak subuh, para blantik dan pembeli mulai berdatangan dari Tulungagung maupun luar. Hiruk-pikuk suara hewan, canda tawa pedagang, dan bunyi tepukan tangan mewarnai suasana.
Transaksi tak semata dilakukan dengan uang, tapi juga lewat kode tubuh, senyum, dan bahasa yang hanya dipahami para pemain lama.
Salah satu atraksi utama di pasar ini adalah seni tawar-menawar. Jangan bayangkan proses kaku seperti di toko modern. Di sini, negosiasi bisa berlangsung lama, sambil ngopi atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul.
Saat kesepakatan hampir tercapai, biasanya terdengar tepukan tangan sebagai tanda “deal” tanpa perlu banyak kata.
Blantik punya kosakata unik, yang membuat orang awam kadang bingung. Misalnya:
“Buangan”: hewan yang kurang ideal tapi masih bisa dijual
“Tiban”: hewan yang baru dibeli dari luar kota
“Gaman”: hewan yang punya keunggulan, entah bentuk tubuh atau kesehatan
Dengan bahasa ini, mereka bisa berdiskusi tanpa khawatir dipahami kompetitor atau pembeli awam.
Lebih dari Sekadar Jual-Beli
Bagi para blantik, pasar hewan bukan sekadar tempat cari nafkah. Ini juga ruang silaturahmi, berbagi kabar, bahkan arena menjaga gengsi. Tak jarang, blantik senior jadi “tokoh” yang dihormati karena jam terbang dan keahliannya membaca karakter hewan.
Jadi, jika suatu hari kamu berkesempatan mampir ke Pasar Hewan Tulungagung, sempatkan waktu untuk mengamati. Siapa tahu, kamu bisa belajar sepotong dua potong seni dagang dari para blantik yang lihai dan bersahaja ini.
Kalau kamu mau, bisa aku tambahkan info jam bukanya atau tips buat pengunjung awam — tinggal bilang saja. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah