TULUNGAGUNG - Bagi banyak perantau asal Tulungagung, pulang kampung rasanya tak lengkap tanpa membawa oleh-oleh.
Dari sekian banyak pilihan, jenang Tulungagung hampir selalu masuk dalam daftar bawaan. Entah itu jenang gadung, jenang ketan, atau jenang tape, semua punya tempat tersendiri di hati warga Tulungagung.
Tapi, mengapa sih orang Tulungagung begitu bangga membawa jenang saat pulang kampung?
Jenang bukan cuma makanan manis yang legit. Ada filosofi di balik teksturnya yang kenyal dan rasa manis yang melekat. Dalam budaya Jawa, jenang melambangkan kelekatan dan harmoni dalam keluarga.
Setiap suapan jenang seolah mengingatkan kita pada manisnya ikatan kekeluargaan yang tak mudah putus, meski jarak memisahkan.
Saat merantau, membawa pulang jenang untuk keluarga atau tetangga bukan sekadar urusan oleh-oleh.
Ini adalah wujud perhatian dan kasih sayang. Lewat bungkusan jenang yang dibawa, si perantau ingin menunjukkan bahwa meski jarang pulang, ia tetap ingat dan membawa “manisnya kampung halaman” untuk dibagi.
Bagi sebagian orang tua di Tulungagung, anak yang pulang kampung dengan tangan penuh oleh-oleh, termasuk jenang, adalah tanda bahwa sang anak hidup berkecukupan di perantauan.
Maka tak heran, membawa jenang pun sering dianggap sebagai simbol keberhasilan dan berbagi rezeki.
Tak hanya untuk keluarga, jenang juga kerap dibagikan ke tetangga dan kerabat. Momen ini menjadi ajang mempererat silaturahmi. Biasanya, usai lebaran atau saat ada acara hajatan, jenang akan ramai-ramai dibagikan.
Senyum-senyum kecil muncul di tiap rumah yang menerima sebungkus jenang khas Tulungagung.
Tulungagung dikenal sebagai penghasil jenang yang punya rasa khas. Banyak orang luar daerah bahkan mengenali kota ini dari cita rasa jenangnya. Itulah mengapa membawa jenang seperti membawa potongan identitas kampung halaman.
Ada rasa bangga tersendiri saat memperkenalkan jenang Tulungagung ke teman-teman di perantauan.
Jadi, lain kali kamu melihat ada orang Tulungagung pulang kampung sambil menenteng bungkusan jenang, ketahuilah bahwa di balik manis dan legitnya makanan itu, tersimpan banyak rasa: rindu, sayang, bangga, dan kenangan akan kampung halaman. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah