TULUNGAGUNG - Kalau jalan-jalan ke Tulungagung, pasti mata langsung dimanjakan oleh pemandangan yang satu ini jajaran pedagang kaki lima, gerobak aneka jajanan, dan kerumunan warga yang asyik ngemil di pinggir jalan.
Mulai pagi, siang, sore, sampai malam selalu ada saja yang nongkrong sambil menikmati camilan di Tulungagung.
Sebenarnya, kenapa sih orang Tulungagung suka banget ngemil di luar rumah?
- Budaya Nongkrong yang Santai
Masyarakat Tulungagung terkenal ramah dan santai. Nongkrong di warung pinggir jalan bukan cuma soal makan, tapi juga ajang bersosialisasi.
Di sela-sela obrolan ringan, camilan jadi "teman ngobrol" yang wajib ada. Entah itu gorengan, pentol, cilok, atau pisang molen makan bareng-bareng bikin suasana makin akrab.
- Variasi Camilan yang Menggoda
Tulungagung punya kekayaan kuliner kaki lima yang luar biasa. Bayangkan saja, di sepanjang jalan, kita bisa nemu mulai dari jajanan tradisional kayak jenang grendul dan klepon, sampai jajanan kekinian seperti corn dog dan minuman boba.
Variasinya yang banyak bikin orang nggak pernah bosan ngemil.
- Harga yang Bersahabat
Salah satu alasan ngemil pinggir jalan makin digemari adalah soal harga. Dengan uang Rp10.000-an saja, sudah bisa dapet beberapa jenis camilan enak. Cocok buat siapa saja—pelajar, pekerja, ibu-ibu, sampai bapak-bapak yang sekadar lewat.
- Waktu Fleksibel, Tempat Strategis
Banyak pedagang camilan buka dari pagi buta sampai malam hari. Jadi kapan pun lapar melanda atau sekadar pengin ngunyah, tinggal melipir sebentar ke pinggir jalan.
Apalagi kebanyakan lokasinya strategis—dekat pasar, sekolah, kantor, alun-alun. Nggak heran, ngemil di luar rumah sudah jadi bagian dari ritme harian warga.
- Nostalgia dan Kenyamanan
Bagi banyak orang Tulungagung, ngemil di warung kaki lima punya rasa nostalgia tersendiri. Ada kenangan masa kecil, momen kumpul bareng teman lama, atau sekadar menikmati suasana jalanan sambil menyeruput teh panas.
Makan di tempat sederhana justru sering bikin nyaman dan rileks.
Kesimpulannya? Ngemil di pinggir jalan di Tulungagung itu bukan cuma soal perut, tapi juga soal budaya, kebersamaan, dan cara menikmati hidup yang sederhana.
Jadi, kalau lagi main ke sini, jangan lewatkan kesempatan buat "ikut ngunyah" di pinggir jalan. Siapa tahu, malah ketemu teman baru di tengah gigitan gorengan panas. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah