TULUNGAGUNG - Masa kecil di Tulungagung memang punya segudang kenangan indah, salah satunya soal jajanan favorit sepulang sekolah.
Bagi warga Tulungagung, jajanan SD bukan hanya sekadar camilan, tetapi sudah menjadi bagian dari memori masa kecil yang hangat dan sederhana.
Menariknya, kini jajanan-jajanan klasik di Tulungagung itu justru banyak diburu anak-anak dewasa. Rasa penasaran dan kerinduan untuk kembali merasakan kenikmatan tempo dulu membuat camilan-camilan ini makin populer di segala usia.
1. Cilok Kenyal dan Gurih, Masih Jadi Juara
Siapa yang bisa menolak lezatnya cilok? Dulu, jajanan berbentuk bulat berbahan tepung tapioka ini kerap ditemui di gerobak depan gerbang sekolah. Disajikan hangat, diberi saus kacang, kecap, dan sedikit sambal, cilok menghadirkan sensasi kenyal dan gurih dalam sekali gigit.
Meski kini banyak varian baru seperti cilok keju hingga cilok kuah, cilok klasik tetap menjadi buruan utama warga Tulungagung, bahkan mereka rela antre demi mencicipi kenangan masa lalu ini.
Baca Juga: Pasar Malam Tulungagung Antara Hiburan, Mitos, dan Jajanan yang Bikin Rindu
2. Sempol yang bikin ketagihan
Aroma harum sempol ayam goreng pasti membuat siapa saja tergoda. Jajanan ini dulunya hanya dijual di pojok-pojok sekolah dasar, tetapi kini bisa ditemukan di banyak pusat keramaian hingga kafe-kafe kekinian.
Sempol ayam kini bahkan dikemas lebih menarik dan diberi variasi saus, membuatnya bukan hanya digemari anak-anak, tapi juga orang dewasa. Tak heran jika banyak warga Tulungagung sengaja berburu jajanan ini untuk sekadar melepas rindu.
Baca Juga: Tips Cari Jajanan Pagi Kaki Lima di Tulungagung Cara Asyik Mulai Hari dengan Cita Rasa Lokal
3. Telur Gulung, Sederhana tapi Ngangenin
Telur gulung dulu cuma bermodal telur dan tusukan bambu, tapi bisa membuat anak-anak SD mengantri. Meski sederhana, rasa gurih dan teksturnya yang renyah membuat siapa pun ketagihan.
Kini, telur gulung justru makin populer di kalangan anak muda dan pekerja kantoran di Tulungagung. Tak jarang mereka berburu telur gulung di sore hari, demi mengingat nikmatnya camilan di masa kecil.
Baca Juga: 6 Jajanan Sore hingga Malam Terlaris dan Hits di Pinka Tulungagung, Wajib Dicoba Sebelum Kehabisan!
4. Es Lilin dan Es Gabus, Penyegar Sederhana Penuh Nostalgia
Selain gorengan, es lilin dan es gabus adalah camilan wajib saat matahari sedang terik. Rasa buah segar dan tekstur es yang lumer di mulut membawa kita kembali ke masa kecil yang riang.
Tidak jarang es lilin dan es gabus kini dihadirkan dalam bentuk modern dan lebih kekinian di beberapa gerai jajanan di Tulungagung, sehingga membuat mereka makin diminati, bahkan untuk kebutuhan konten media sosial.
5. Gulali dan Permen Jadul, Tetap Jadi Ikon
Yang tak kalah menarik adalah jajanan tradisional seperti gulali dan permen jadul. Sensasi membuat bentuk-bentuk lucu seperti bunga, ayam, hingga hati membuat siapa pun tergoda untuk bernostalgia.
Kini banyak penjual gulali kreatif menjajakan camilan ini di pusat-pusat wisata Tulungagung. Para pembeli bukan hanya ingin merasakan gulalinya, tapi juga merasakan proses pembuatannya yang menghibur.
6.Kue cubit
jajanan SD yang dulu hanya bisa ditemui di depan sekolah, kini justru menjadi camilan favorit banyak orang dewasa. Teksturnya yang lembut, rasa manisnya yang pas, serta berbagai pilihan topping membuat kue cubit seakan membawa kita kembali ke masa kecil.
Tak heran, banyak kedai dan kafe kekinian kini menjadikan kue cubit sebagai menu andalan, sekaligus obat rindu akan jajanan masa lalu.
Apa yang membuat jajanan SD begitu istimewa hingga membuat banyak orang dewasa ingin kembali menikmatinya? Selain soal rasa, tentu ada cerita dan kenangan hangat di balik setiap gigitannya.
Bagi banyak warga Tulungagung, jajanan SD bukan hanya soal perut, melainkan juga soal perasaan dan memori bahagia masa kecil.
Kini, jajanan klasik ini pun hadir lebih kreatif dan inovatif, membuatnya tetap relevan dan mampu memikat generasi baru.
Tidak hanya anak-anak, tetapi juga anak muda dan orang dewasa berbondong-bondong mencicipi jajanan SD, seakan ingin mengingat kembali masa-masa tanpa beban dan penuh canda tawa. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah