TULUNGAGUNG- Bagi warga Tulungagung, hajatan bukan sekadar pesta, melainkan sebuah tradisi hangat yang mempererat rasa persaudaraan.
Salah satu budaya khas Tulungagung adalah rewangan, di mana para tetangga, kerabat, dan saudara ikut sibuk membantu persiapan hajatan, bahkan jauh sebelum hari H berlangsung.
Tapi, kenapa budaya ini begitu melekat dan dicintai warga Tulungagung?
1. Makna Gotong Royong dalam Budaya Rewangan
Di Tulungagung, nilai gotong royong sudah seperti napas sehari-hari. Orang-orang tak perlu diminta dua kali untuk ikut rewangan, sebab mereka percaya bahwa saling membantu adalah bentuk kepedulian dan rasa kekeluargaan.
Biasanya, mereka akan hadir sejak pagi buta untuk mengupas bumbu dapur, memasak beragam masakan khas hajatan, menata kursi dan tenda, hingga membereskan peralatan. Semua ini mereka lakukan secara sukarela dan tanpa pamrih.
2. Jalinan Silaturahmi dan Rasa Kekeluargaan
Selain meringankan beban tuan rumah, rewangan juga menjadi ajang silaturahmi. Sambil bekerja, mereka bercanda, bertukar kabar, hingga mengenang masa lalu.
Suasana hangat dan akrab membuat hajatan bukan hanya soal makan-makan, tetapi juga mempererat persaudaraan.
Tak jarang, hubungan antartetangga makin akrab, bahkan mereka menjadi seperti saudara sendiri.
Baca Juga: Fenomena Unik di Tulungagung ketika Warga Gelar Hajatan
3. Menghidupkan Semangat Saling Membantu
Budaya rewangan di Tulungagung juga menjadi contoh nyata semangat saling membantu. Warga percaya, kebaikan akan berbalik dalam bentuk lain hari ini mereka membantu, esok giliran mereka dibantu.
Tak heran bila anak-anak sejak dini sudah diajarkan untuk ikut membantu di hajatan agar kelak mereka bisa melanjutkan tradisi ini.
4. Menciptakan Kenangan dan Kebersamaan
Kebersamaan saat rewangan biasanya meninggalkan kenangan indah. Selain bisa mencicipi masakan tradisional langsung dari dapur, mereka juga bisa belajar banyak hal baru dari para ibu-ibu senior dan bapak-bapak yang lebih berpengalaman.
Dari cara membuat jenang, meracik bumbu, hingga menata dekorasi semua diajarkan secara turun-temurun dan membuat generasi muda makin cinta budayanya sendiri.
Di era modern ini, meski banyak hajatan sudah memakai jasa katering dan event organizer, “rewangan” tetap bertahan di hati warga Tulungagung.
Bagi mereka, hajatan bukan hanya soal formalitas, tetapi momen berbagi dan kebersamaan. Budaya ini adalah warisan leluhur yang harus terus dilestarikan agar semangat guyub rukun dan saling tolong-menolong tetap hidup di tengah masyarakat. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah