TULUNGAGUNG - Tulungagung bukan hanya dikenal sebagai Kota Marmer terbesar di Indonesia, melainkan juga sebagai kota yang kaya akan warisan sejarah dan budaya.
Di balik hiruk-pikuk modernisasi dan geliat pembangunan, Tulungagung menyimpan banyak cerita dari masa lalu yang masih terasa hidup sampai hari ini.
Dari bangunan tua, tradisi, hingga peninggalan arsitektur kolonial, semua menjadi bagian dari warisan kota Tulungagung yang wajib diketahui dan dijaga generasi muda.
1. Jembatan Plengkung: Ikon Klasik yang Tak Tergerus Zaman
Salah satu warisan kota yang masih berdiri kokoh adalah Jembatan Plengkung di atas Sungai Ngrowo.
Dengan desain melengkung khas era kolonial, jembatan ini bukan hanya fungsional sebagai penghubung antarwilayah, tapi juga menyimpan nilai estetika dan sejarah yang dalam.
Dibangun sejak zaman Belanda, jembatan ini menjadi saksi bisu perkembangan Tulungagung dari kota kecil agraris hingga menjadi sentra ekonomi marmer dan kerajinan.
2. Stasiun Tulungagung: Napas Transportasi Masa Lampau
Bangunan tua Stasiun Tulungagung yang berdiri sejak zaman Hindia Belanda adalah salah satu bukti nyata warisan kolonial di kota ini.
Dengan arsitektur kuno dan peron yang masih mempertahankan nuansa jadul, stasiun ini mengingatkan kita pada masa kejayaan transportasi rel di era lalu.
Hingga kini, stasiun ini tetap aktif melayani penumpang, menjadikannya warisan yang hidup dan terus berperan bagi mobilitas warga Tulungagung.
3. Klenteng Tjoe Tik Kiong: Simbol Toleransi dan Keberagaman
Di tengah kota, terdapat Klenteng Tjoe Tik Kiong yang berdiri sejak tahun 1740.
Klenteng ini menjadi simbol keberagaman budaya di Tulungagung dan menunjukkan bahwa sejak dulu, kota ini telah dihuni oleh masyarakat multietnis yang hidup rukun dan berdampingan.
Dengan ornamen khas Tionghoa yang terawat baik dan aktivitas keagamaan yang masih berjalan, klenteng ini menjadi warisan spiritual sekaligus cagar budaya.
4. Tradisi Larung Sesaji Pantai Popoh
Bukan hanya bangunan, tradisi budaya juga menjadi bagian penting dari warisan kota.
Salah satunya adalah Larung Sesaji di Pantai Popoh, sebuah upacara adat yang digelar setiap tahun sebagai bentuk syukur kepada laut.
Tradisi ini menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal, spiritualitas, dan seni pertunjukan, menjadikannya magnet wisata budaya dan sekaligus warisan leluhur yang harus terus dilestarikan.
5. Situs Gayatri dan Makam Raja-Raja
Di wilayah Boyolangu, Tulungagung juga memiliki Situs Gayatri, tempat peristirahatan terakhir Gayatri Rajapatni istri Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.
Di sekitarnya juga terdapat beberapa kompleks pemakaman raja dan bangsawan.
Keberadaan situs ini menegaskan bahwa Tulungagung adalah salah satu pusat peradaban penting di masa lalu.
Ini menjadi warisan sejarah yang tak ternilai harganya, terutama bagi dunia pendidikan dan sejarah Indonesia.
6. Masjid Agung Al Munawwar: Kebanggaan Umat Islam Tulungagung
Masjid Agung Al Munawwar yang berdiri megah di pusat kota merupakan salah satu bangunan ikonik yang memiliki nilai arsitektur dan spiritual tinggi.
Meski sudah mengalami beberapa renovasi, masjid ini tetap mempertahankan ciri khas desain Jawa-Islam dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sejak lama.
Warisan kota bukan sekadar peninggalan benda atau bangunan, melainkan identitas, jati diri, dan sumber kebanggaan masyarakat.
Menjaga warisan berarti menjaga nyawa kota, menjaga nilai luhur yang membentuk karakter generasi Tulungagung dari masa ke masa.
Dengan menjadikan warisan ini bagian dari pendidikan, pariwisata, dan kebijakan lokal, kita bisa mewariskannya ke anak cucu sebagai bukti bahwa Tulungagung bukan kota sembarangan tapi kota yang punya sejarah, budaya, dan jiwa.
Dari jembatan tua, klenteng, situs kerajaan, hingga tradisi larung, semua menunjukkan betapa kaya dan berwarnanya warisan Kota Tulungagung.
Ini bukan hanya bagian dari masa lalu, melainkan juga penopang masa depan.
Mari jaga bersama, kenalkan pada generasi muda, dan manfaatkan untuk membangun pariwisata budaya yang berkelanjutan di Tulungagung.(rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah