Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Etika Berkendara Ala Orang Tulungagung: Santun di Jalan, Budaya yang Tak Lekang oleh Zaman

Rinto Wahyu Hidayat • Selasa, 24 Juni 2025 | 18:30 WIB
Di tengah maraknya perilaku berkendara yang ugal-ugalan di berbagai daerah, Tulungagung justru hadir sebagai contoh kota kecil.
Di tengah maraknya perilaku berkendara yang ugal-ugalan di berbagai daerah, Tulungagung justru hadir sebagai contoh kota kecil.

TULUNGAGUNG – Di tengah maraknya perilaku berkendara yang ugal-ugalan di berbagai daerah, Tulungagung justru hadir sebagai contoh kota kecil.

Tulungagung menyimpan etika berkendara yang patut diteladani.

Masyarakat Tulungagung dikenal ramah, sabar, dan tetap mengedepankan sopan santun meskipun berada di tengah kemacetan atau situasi jalanan yang padat.

1. Memberi Jalan dengan Isyarat Tangan dan Senyuman.

Salah satu kebiasaan unik pengendara di Tulungagung adalah memberi jalan dengan isyarat tangan sambil tersenyum. Ketika ada kendaraan dari gang kecil ingin keluar, pengendara Tulungagung kerap melambatkan laju motor atau mobilnya dan memberi isyarat: “Monggo, silakan duluan…”.

Kebiasaan ini terasa hangat dan menciptakan suasana jalanan yang lebih bersahabat.

2. Klakson Bukan untuk Marah, Tapi Mengingatkan.

Bagi warga Tulungagung, klakson bukan alat untuk meluapkan emosi.
Mereka hanya membunyikannya pelan-pelan untuk memberi tanda, bukan menekan dengan keras dan berulang.
Ini merupakan bentuk kesadaran akan pentingnya ketenangan di jalan dan menghargai pengendara lain.

3. Menghindari Emosi Saat Terjadi Salah Paham.

Ketika terjadi insiden kecil di jalan misalnya hampir bersenggolan atau salah jalur pengendara Tulungagung cenderung tidak langsung emosi.
Justru yang sering terdengar adalah kalimat: “Maaf, nggih, mboten kerso…” (Maaf, ya, tidak sengaja…)

Ucapan ini disampaikan dengan nada rendah hati, menjadi penetral ketegangan, sekaligus cerminan budaya Jawa yang kuat.

4. Tidak Sembarangan Parkir di Pinggir Jalan.

Etika berkendara di Tulungagung juga terlihat dari kebiasaan parkir. Warga lokal umumnya akan memastikan kendaraannya tidak mengganggu arus lalu lintas. Mereka lebih memilih mencari tempat parkir yang aman dan legal, meskipun harus berjalan sedikit lebih jauh.

5. Saling Sapa Meski Tak Saling Kenal.

Hal yang jarang ditemukan di kota besar adalah budaya saling menyapa di jalan.
Di Tulungagung, sesama pengendara motor yang saling berselisih jalan kerap menganggukkan kepala atau sekadar tersenyum.
Ini jadi bentuk penghormatan kecil yang mempererat sesama pengguna jalan.

Etika berkendara warga Tulungagung bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari identitas sosial.

Ketika semua pengendara memiliki kesadaran untuk menghormati orang lain di jalan, maka keamanan, kenyamanan, dan kedamaian bisa tercipta dengan alami.

Bagi Anda yang ingin berkunjung atau tinggal di Tulungagung, bersiaplah merasakan nuansa berkendara yang berbeda.

Di kota ini, jalan bukan sekadar tempat berpacu, tapi ruang sosial yang penuh nilai budaya. (rin)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #lalu lintas #mobil #ramah