TULUNGAGUNG- Malam 1 Suro, atau malam pergantian tahun baru Jawa, bagi masyarakat Tulungagung bukan sekadar momentum penanggalan.
Di berbagai pelosok kampung dan desa di Tulungagung, malam 1 Suro merupakan malam sakral ini masih diperingati dengan ritual dan tradisi yang kaya makna, mencerminkan warisan budaya yang terus lestari di tengah arus modernisasi.
Begitu senja tiba, suasana di beberapa desa mulai berbeda saat malam 1 Suro di Tulungagung. Warga berkumpul, lampu-lampu temaram dipasang, aroma dupa dan bunga menguar di udara. Di sejumlah tempat, prosesi kirab pusaka digelar.
Benda-benda bersejarah milik desa atau tokoh masyarakat diarak mengelilingi kampung sebagai simbol pembersihan dan perlindungan spiritual.
Tak jarang pula terdengar kidungan tembang Jawa yang dilantunkan penuh penghayatan. Para sesepuh dan pemuka adat memimpin doa bersama, memohon keselamatan, keberkahan, dan tolak bala bagi warga desa.
Selain itu, banyak keluarga Tulungagung yang menggelar ritual “tirakatan” di rumah masing-masing.
Dengan suguhan tumpeng, jenang abang-putih (bubur merah-putih), dan aneka sesaji, mereka menggelar doa malam hingga dini hari, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Malam 1 Suro juga menjadi momen bagi para pelaku spiritual untuk melakukan laku tapa brata berpuasa, semedi, atau berjalan kaki tanpa alas sepanjang malam.
Semua dilakukan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus introspeksi diri menyongsong tahun yang baru.
Di era serba digital ini, keunikan tradisi malam 1 Suro di Tulungagung justru menarik perhatian generasi muda dan wisatawan budaya.
Banyak yang datang untuk sekadar menyaksikan atau bahkan turut larut dalam prosesi, merasakan kearifan lokal yang begitu kaya.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa meski zaman terus bergerak maju, kearifan leluhur tetap menemukan tempat di hati masyarakat Tulungagung sebuah warisan yang bukan hanya dijaga, tapi juga dirayakan dengan bangga. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah