Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rujakan Megengan di Kampung-Kampung Tulungagung, hanya Waktu Tertentu Disajikan

Yoga Dany Damara • Rabu, 25 Juni 2025 | 15:00 WIB
Di tengah arus zaman yang serba modern, di berbagai sudut kampung Tulungagung, masih hidup sebuah tradisi sederhana yang sarat makna Rujakan Megengan.
Di tengah arus zaman yang serba modern, di berbagai sudut kampung Tulungagung, masih hidup sebuah tradisi sederhana yang sarat makna Rujakan Megengan.

TULUNGAGUNG - Di tengah arus zaman yang serba modern, di berbagai sudut kampung Tulungagung, masih hidup sebuah tradisi sederhana yang sarat makna Rujakan Megengan.

Setiap tahun di Tulungagung, tepat menjelang bulan suci Ramadan, warga berkumpul, bergotong royong menyiapkan sajian khas ini.

Bukan semata-mata soal makanan, melainkan sebuah simbol pembersihan diri, ajang saling memaafkan, dan mempererat silaturahmi antarwarga di Tulungagung.

 Baca Juga: Unik, Tradisi Grebeg Suro di Tulungagung: Perayaan 1 Suro Penuh Makna, Spiritualitas, dan Warisan Budaya

Dalam tradisi ini, rujak menjadi bintang utama. Terbuat dari aneka buah segar seperti mangga muda, bengkuang, nanas, jambu, mentimun, dan kedondong semuanya dipotong tipis dan disiram dengan bumbu kacang yang kental.

Cita rasa rujak yang khas, perpaduan rasa pedas, asam, manis, dan segar, dipercaya melambangkan kehidupan yang penuh warna serta harapan untuk "membersihkan" diri dari dosa dan kesalahan sebelum memasuki Ramadan.

Tak hanya rujak, di beberapa kampung, tradisi ini juga disertai dengan megengan—nasi berkat atau tumpeng kecil yang dibagikan ke tetangga dan kerabat.

"Megengan" sendiri berasal dari kata Jawa "megeng" yang berarti menahan atau mengendalikan selaras dengan makna Ramadan sebagai bulan menahan hawa nafsu dan memperbanyak amal ibadah.

 Baca Juga: Makna Perlengkapan Tedhak Siten, Tradisi Jawa yang Penuh Nilai Kehidupan

Suasana Rujakan Megengan biasanya sangat meriah. Sejak pagi hari, para ibu dan pemuda kampung berkumpul, membawa bahan-bahan yang sudah dipersiapkan.

Di balai desa atau rumah warga yang cukup luas, mereka bersama-sama memotong buah, mengulek bumbu, dan meracik rujak.

Sembari memasak, obrolan ringan mengalir, tawa pecah di sana-sini, menciptakan kehangatan yang tak tergantikan.

Anak-anak kecil pun berlarian, menikmati keriuhan yang jarang mereka temui di hari-hari biasa.

Setelah rujak siap disajikan, warga akan duduk bersama menikmati hidangan, berbagi cerita, dan saling memaafkan.

Ada pula yang membagikan megengan ke tetangga yang berhalangan hadir, sebagai tanda kasih dan solidaritas.

Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Rujakan Megengan memiliki makna spiritual yang dalam. Rasa asam-pedas rujak dianggap sebagai simbol penghilangan segala rasa getir dan dosa, mempersiapkan hati yang bersih dan ikhlas untuk menyambut bulan suci.

Selain itu, kebersamaan dalam tradisi ini memperkuat rasa persaudaraan di antara warga.

Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk saling bermaafan, memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang, serta mempererat tali silaturahmi di tengah masyarakat yang kini kian individualistis.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tak sedikit tradisi lama yang mulai terlupakan.

Namun di Tulungagung, Rujakan Megengan tetap bertahan. Bahkan, banyak generasi muda yang kini ikut terlibat, merasa bangga bisa melestarikan warisan leluhur yang penuh makna ini.

Beberapa komunitas budaya bahkan mulai mengangkat Rujakan Megengan ke media sosial, memperkenalkannya ke khalayak lebih luas agar tidak punah ditelan zaman.

Tak heran, tradisi ini kini juga mulai dikenal di luar Tulungagung, sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa Timur.

Rujakan Megengan adalah bukti bahwa tradisi sederhana bisa membawa makna besar dalam kehidupan.

Di balik semangkuk rujak dan nasi megengan, tersimpan pesan tentang kebersihan hati, pentingnya silaturahmi, dan nilai-nilai luhur yang tetap relevan di zaman sekarang.

Semoga tradisi ini terus hidup, mewarnai Ramadan di Tulungagung, dan menginspirasi banyak orang untuk lebih menghargai warisan budaya lokal. (*)

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #megengan #ramadan #zaman #rujak