TULUNGAGUNG – Penyakit cacingan masih menjadi ancaman kesehatan yang nyata bagi anak-anak di Kabupaten Tulungagung.
Meski kerap dianggap sepele, infeksi cacing bisa berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak di Tulungagung.
Terutama dalam hal penyerapan gizi, perkembangan kognitif, hingga potensi stunting di Tulungagung.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani menyebutkan, dari data terakhir yang dihimpun setiap lima tahun sekali, telah dilakukan survei laboratorium terhadap 6.720 anak usia sekolah dan pra sekolah di Tulungagung.
Hasilnya, 101 anak dinyatakan positif cacingan.
“Cacingan sering kali tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, tapi bisa merusak secara perlahan. Anak bisa tampak lemas, kurang nafsu makan, sulit konsentrasi, dan tumbuh lebih lambat dibanding teman seusianya,” terang Desi, Selasa (25/6/2025).
Cacingan disebabkan oleh parasit seperti Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), dan cacing tambang lainnya yang menyebar lewat tanah atau makanan yang terkontaminasi.
Telur cacing dapat masuk ke tubuh manusia melalui tangan yang kotor, makanan yang tidak higienis, atau kulit kaki yang bersentuhan langsung dengan tanah yang terkontaminasi.
Lebih dari sekadar infeksi ringan, cacingan dapat merusak penyerapan nutrisi penting seperti zat besi dan vitamin A.
Jika dibiarkan, infeksi ini bisa menyebabkan anemia, gangguan tumbuh kembang, bahkan meningkatkan risiko stunting.
“Berdasarkan SK Bupati Tulungagung tahun 2025, tercatat ada 434 balita yang mengalami stunting. Ini menjadi bukti bahwa faktor-faktor penyerta seperti cacingan harus segera ditangani,” jelas Desi.
Sebagai respons, Dinkes Tulungagung telah menjalankan Program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) cacingan.
Pada tahap pertama yang dilakukan April 2025, cakupan pemberian obat mencapai 99,8 persen dari target anak usia sekolah.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan dengan berbagai media seperti flipchart, brosur, serta permainan edukatif “Cacing Tangga” untuk anak-anak.
Desi menambahkan, masyarakat memiliki peran besar dalam pencegahan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun, memakai alas kaki, memotong kuku, dan mengonsumsi makanan yang bersih. Jangan anggap remeh gejala seperti lesu atau perut tidak nyaman, karena bisa jadi itu tanda cacingan,” ujarnya.
Sebagai upaya monitoring, survei cacingan selanjutnya dijadwalkan pada 2027.
Pemerintah berharap selama periode ini kesadaran masyarakat meningkat sehingga angka infeksi bisa ditekan.
"Dengan dukungan orang tua, tenaga pendidik, dan masyarakat luas, penyakit cacingan bisa dicegah sejak dini. Anak-anak pun dapat tumbuh sehat, cerdas, dan terbebas dari ancaman tersembunyi di dalam tubuh mereka," pungkasnya. (sri/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah