TULUNGAGUNG - Bukan cuma dikenal karena potensi alam dan budayanya, tapi Tulungagung juga karena satu kebiasaan unik yang jadi bagian dari kehidupan sehari-hari: "Ngopi".
Hampir di setiap sudut kota Tulungagung, dari pusat kota sampai pelosok desa, "warkop" alias warung kopi berjejer dengan identitasnya masing-masing.
Tidak heran jika muncul julukan "Kota Seribu Warkop." Tapi, benarkah ngopi sudah menjadi budaya khas warga Tulungagung?
1. Ngopi sebagai Ritual Harian Warga Tulungagung.
Bagi warga Tulungagung, ngopi bukan sekadar minum kopi.
Ini sudah jadi ritual harian yang mengiringi aktivitas dari pagi sampai malam.
Entah itu ngopi sebelum kerja, saat istirahat siang, atau sekadar melepas penat sore hari.
Warkop menjadi ruang sosial tempat berbagai kalangan berkumpul: dari petani, tukang ojek, ASN, pelajar, hingga pebisnis.
Tidak sedikit juga komunitas motor, seniman, hingga anak muda kreatif Tulungagung yang menjadikan warkop sebagai markas diskusi ide dan kolaborasi.
2. Jumlah Warkop yang Mencengangkan.
Jika ditelusuri, jumlah warkop di Tulungagung bisa mencapai ribuan unit.
Dari yang model sederhana pakai tenda, sampai warkop kekinian dengan Wi-Fi dan live music.
Hampir setiap jalan utama dan gang kecil pasti ada minimal satu tempat ngopi, Beberapa bahkan buka 24 jam non-stop.
Inilah yang memunculkan wacana bahwa Tulungagung pantas menyandang julukan Kota Seribu Warkop, menyamai kota besar seperti Surabaya atau Malang dalam hal budaya ngopi.
3. Kopi Lokal Tulungagung juga Tak Kalah Nikmat.
Budaya ngopi di Tulungagung juga didukung oleh ketersediaan kopi lokal dari daerah sekitar seperti Sendang, Kalidawir, dan Pagerwojo.
Petani kopi di kawasan perbukitan Tulungagung menyuplai biji kopi robusta dan arabika yang berkualitas.
Beberapa warkop bahkan mulai menyajikan kopi tubruk lokal sebagai signature menu.
Dengan rasa khas dan harga terjangkau, kopi lokal Tulungagung makin memperkuat identitas ngopi sebagai budaya warga.
4. Warkop sebagai Simbol Ekonomi Kerakyatan.
Selain sebagai tempat nongkrong, warkop juga menjadi penopang ekonomi lokal.
Banyak warga membuka warkop sebagai usaha keluarga.
Bahkan banyak pelaku UMKM kuliner seperti penjual gorengan, camilan, atau kerajinan tangan menggantungkan dagangannya di sekitar warkop.
Di sinilah peran warkop tidak sekadar tempat ngopi, tapi juga bagian dari ekonomi mikro yang hidup dan berkelanjutan di Tulungagung.
5. Warkop Modern Muncul, tapi Warkop Tradisional Tetap Dicinta.
Tren sekarang memang membawa perubahan gaya, tapi warga Tulungagung tetap cinta dengan warkop tradisional.
Meskipun banyak yang bermunculan dengan konsep café-style, tapi warkop legendaris seperti Warkop Pak Slamet atau Warkop Pojok Alun-Alun tetap ramai pengunjung.
Ini menunjukkan bahwa budaya ngopi bukan soal gaya, tapi soal kebersamaan dan identitas lokal.
Dengan jumlah warung kopi yang luar biasa banyak, budaya ngopi yang melekat di hati warga, dan kontribusinya terhadap ekonomi lokal, Tulungagung sangat layak disebut sebagai Kota Seribu Warkop.
Bukan hanya tempat minum kopi, warkop di Tulungagung adalah tempat berkumpul, berbagi cerita, bahkan merancang masa depan.
Jadi, kalau kamu sedang berada di Tulungagung, ngopi bukan pilihan itu kewajiban.(rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah