Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tradisi Menjemur Kasur di Tulungagung Antara Warisan Leluhur dan Penolak Energi Negatif

Yoga Dany Damara • Minggu, 29 Juni 2025 | 13:00 WIB

 

Salah satu yang menarik di Tulungagung dan jadi perhatian adalah tradisi menjemur kasur, yang bukan sekadar aktivitas rumah tangga biasa.
Salah satu yang menarik di Tulungagung dan jadi perhatian adalah tradisi menjemur kasur, yang bukan sekadar aktivitas rumah tangga biasa.

TULUNGAGUNG - Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Tulungagung tetap mempertahankan berbagai tradisi unik yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu yang menarik di Tulungagung dan jadi perhatian adalah tradisi menjemur kasur, yang bukan sekadar aktivitas rumah tangga biasa.

Tapi dipercaya memiliki nilai spiritual dan makna simbolis yang mendalam bagi sebagian warga Tulungagung.

 Baca Juga: Menguak Tradisi Unik Malam 1 Suro di Tulungagung Warisan Leluhur yang Tetap Hidup, Tak Sekadar Momentum Penanggalan

Secara kasat mata, menjemur kasur mungkin terlihat hanya sebagai kegiatan rutin untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tempat tidur.

Namun, bagi sebagian besar warga Tulungagung, terutama mereka yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi, kegiatan ini diyakini mampu menolak bala, membuang sial, dan membersihkan energi buruk dari dalam rumah.

Kasur yang dijemur bukan kasur sembarangan. Yang paling sering terlihat adalah kasur kapuk bermotif bunga merah cerah.

Warna merah dan motif bunga dianggap sebagai simbol energi positif yang bisa menetralisir unsur-unsur negatif yang menempel di dalam rumah maupun kasur itu sendiri.

 Baca Juga: Wisata Religi di Tulungagung Menyusuri Jejak Ziarah dan Tradisi Spiritual yang Sarat Makna

Menjemur kasur ini seringkali dilakukan pada hari-hari tertentu yang dianggap baik, seperti Jumat pagi, atau menjelang bulan Jawa yang diyakini membawa keberuntungan.

Tak jarang, para orang tua akan mengingatkan anak-anaknya untuk tidak asal menjemur kasur di sembarang waktu. Ada etika waktu yang dijaga, karena kegiatan ini menyangkut keharmonisan energi di dalam rumah.

Masyarakat percaya bahwa kasur yang terlalu lama tidak dijemur akan menyimpan energi negatif dari mimpi buruk, stres, kemarahan, dan perasaan-perasaan buruk lainnya.

Dengan menjemurnya di bawah matahari pagi, energi negatif itu bisa “terbakar” dan digantikan dengan aura yang lebih segar.

Jika Anda berjalan menyusuri gang-gang perkampungan di Tulungagung pada hari-hari tertentu, Anda akan menemukan pemandangan menarik: kasur-kasur berjejer rapi di pagar rumah, di atas tali jemuran, bahkan di tanah lapang atau halaman masjid.

Aktivitas ini kadang dilakukan serentak oleh beberapa rumah sekaligus, menciptakan suasana yang khas dan penuh warna.

Tak sedikit warga yang menyebut, setelah menjemur kasur, suasana rumah menjadi lebih tenang, tidur lebih nyenyak, dan rezeki terasa lebih lancar.

Apakah ini sugesti atau memang ada efek spiritual di baliknya? Masyarakat tak terlalu memusingkan penjelasan ilmiah yang penting hasilnya terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi ini adalah contoh nyata kearifan lokal: menggabungkan ilmu praktis (membersihkan kasur dari lembap, tungau, dan debu) dengan nilai-nilai spiritual yang dipercaya memperkuat keharmonisan rumah tangga.

Meskipun tidak semua generasi muda memahami makna mendalamnya, mereka tetap melanjutkan kebiasaan ini setidaknya sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi keluarga.

Bahkan, di era media sosial seperti sekarang, menjemur kasur bisa menjadi konten budaya yang unik dan viral.

Foto-foto kasur merah yang dijemur berjejer di pagar bambu bisa jadi bahan nostalgia, pengingat kampung halaman, atau sekadar pemandangan lucu yang bikin senyum-senyum sendiri.

Tradisi menjemur kasur ini punya potensi besar untuk diangkat ke dalam berbagai bentuk konten dokumenter budaya, video pendek di TikTok, atau thread cerita di Twitter.

Bukan hanya sekadar memperlihatkan kasur yang dijemur, tapi juga menggali cerita di baliknya—tentang filosofi, keyakinan, hingga pengalaman pribadi warga yang merasakan “perbedaan” setelah melakukannya.

Di tengah dunia yang serba cepat dan digital, hal-hal sederhana seperti ini justru menghadirkan kehangatan dan rasa keterikatan yang jarang ditemui dalam budaya modern.

Tradisi menjemur kasur di Tulungagung bukan hanya tentang menjaga tempat tidur tetap kering dan bersih. Ini adalah simbol bahwa dalam kesederhanaan, terkandung nilai-nilai hidup, spiritualitas, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Tradisi ini mengajarkan kita bahwa hal kecil bisa berdampak besar asal dilakukan dengan niat yang tulus dan keyakinan yang kuat. (*)

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#unik #tulungagung #kasur #tradisi