TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, sepeda ontel bukan sekadar alat transportasi jadul.
Bagi sebagian warga dan komunitas pecinta sepeda tua di Tulungagung, ontel justru jadi “kanvas berjalan” untuk mengekspresikan kreativitas.
Mulai dari yang unik, lucu, sampai yang nyeleneh semua bisa ditemui di jalanan Tulungagung.
Bayangkan sepeda tua berderit pelan, tapi dihiasi dengan speaker besar yang muter lagu dangdut koplo, bendera warna-warni, bahkan ada yang digantungi panci dan wajan bekas!
Suara gemerincing logam bercampur musik keras membuat siapa pun yang melihatnya otomatis menoleh lalu tertawa atau setidaknya tersenyum.
Di beberapa sudut kota, sering terlihat komunitas sepeda ontel berkumpul sambil memamerkan modifikasi masing-masing.
Ada yang pakai topi raksasa di atas stang, lampu kelap-kelip ala odong-odong, hingga boneka lucu yang digantung di belakang.
Kreativitas warga ini bahkan jadi daya tarik tersendiri dalam acara karnaval lokal atau sekadar konvoi santai keliling kampung.
Jawabannya simpel visualnya lucu, orisinal, dan menghibur. Dalam era konten pendek yang serba cepat, sepeda ontel modif dengan aksesori absurd justru jadi magnet perhatian di media sosial.
Anak-anak sampai orang tua bisa menikmati tontonan ini tanpa harus tahu tren terbaru karena semua orang suka melihat sesuatu yang bikin senyum.
Di balik panci dan bendera itu, ada semangat untuk melestarikan barang lama dengan cara baru. Sepeda lawas yang mestinya tinggal rongsokan, malah hidup kembali lewat tangan-tangan kreatif warga.
Selain itu, ini juga jadi ajang nostalgia dan sarana silaturahmi antarwarga.
Jadi kalau kamu main ke Tulungagung dan melihat iring-iringan sepeda ontel dengan speaker nge-bass atau boneka Pikachu yang digantung di keranjang, jangan heran.
Itu bukan pawai, itu gaya! Bukti bahwa kreativitas bisa tumbuh dari mana saja bahkan dari sepeda tua yang sudah puluhan tahun mengaspal. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah