Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sambut 1 Suro dan 1 Muharam di Tulungagung: Warga Desa Kalibatur Ketika Menghidupkan Makna Kebersamaan dan Wujud Syukur hingga Suasana Spiritual

Rinto Wahyu Hidayat • Minggu, 29 Juni 2025 | 18:00 WIB

 

Di tengah derasnya arus modernisasi, satu hal tetap hidup di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, tetap menyambut bulan Suro 1959 Jawa dan tahun baru Islam 1 Muharam.
Di tengah derasnya arus modernisasi, satu hal tetap hidup di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, tetap menyambut bulan Suro 1959 Jawa dan tahun baru Islam 1 Muharam.

TULUNGAGUNG – Di tengah derasnya arus modernisasi, satu hal tetap hidup di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, tetap menyambut bulan Suro 1959 Jawa dan tahun baru Islam 1 Muharam. 

Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H dan Suro 1959 Jawa, masyarakat Dusun Papar, Desa Kalibatur, kembali berkumpul dalam sebuah acara yang bukan hanya tasyakuran, tetapi juga perwujudan rasa syukur yang mendalam.

Acara berlangsung di area Warung Tebing Cemundil yang berada di sekitar JLS Tulungagung ini pada Jumat (27/6/2025).

Agenda ini bukan sekadar ritual tahunan. Namun adalah jembatan emosional yang mempertemukan pedagang, tokoh masyarakat, dan warga dalam satu suasana, yakni kebersamaan yang hangat, spiritualitas yang hidup.

Sebuah ruang sosial di selatan Tulungagung, Warung Tebing Cemundil telah lama menjadi lebih dari sekadar tempat makan.

Di titik ini, warga Kalibatur menyatukan langkah.

Dari pagi yang ramai oleh aroma kopi dan nasi pecel, hingga sore yang penuh dengan obrolan ringan antarwarga.

Di sinilah tradisi bertumbuh dan mengakar, menjadikan tempat ini sebagai simpul sosial di Tulungagung bagian selatan.

Tahun ini, agenda tasyakuran diwarnai dengan doa bersama yang mengundang tokoh-tokoh penting: Sekretaris Desa Kalibatur, Babinkamtibmas bersama jajaran kepolisian Kalidawir, Asper dan mantri Perhutani, anggota LAD, hingga ketua RT/RW setempat.

Tak ketinggalan, para mantri dusun seperti Senu, Ali, dan Tumpak Gempol turut hadir memperkuat kesan guyub.

Bukan Sekadar Ritual, Tapi Pesan yang Dihidupkan

Ketua Perkumpulan Pedagang Warung Tebing Cemundil, Lukman Basuki mengungkapkan, bahwa kegiatan ini bukan hanya tradisi, tetapi pengingat tentang pentingnya hubungan antarmanusia yang semakin jarang ditemukan di kota-kota besar.

"Kami berharap kebersamaan ini membawa berkah, mempererat silaturahmi, dan menjadi pengingat bahwa kita ini satu keluarga besar di Kalibatur, Tulungagung," demikian harapannya.

Surat undangan resmi dari panitia bahkan menyisipkan pesan penuh makna: harapan bahwa setiap tamu yang hadir akan membawa keberkahan bagi lingkungan sekitar.

Tradisi Suro warisan budaya yang terus menyala di Tulungagung memang tidak pernah kehilangan akarnya.

Tradisi menyambut 1 Muharram atau Suro tetap dijaga di berbagai penjuru desa.

Di Kalibatur, perayaan ini tidak sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menyuntikkan semangat baru untuk tahun yang akan datang.

Kegiatan seperti ini menegaskan bahwa kehidupan masyarakat Tulungagung tidak hanya dibentuk oleh ruang-ruang formal, tetapi juga oleh warung sederhana, tempat obrolan antarwarga, dan doa-doa yang dipanjatkan bersama dalam suasana syukur.

Warung Tebing Cemundil bukan hanya ruang makan, juga menjadi ruang perjumpaan.

Saat Suro tahun ini, Desa Kalibatur kembali membuktikan bahwa di Tulungagung, tradisi, doa, dan kebersamaan masih menemukan rumahnya. (rin)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#jls tulungagung #warung tebing cemundil #tulungagung #1 suro #1 Muharam