TULUNGAGUNG - Di tengah gempuran mainan digital dan produk pabrik yang serba instan, masih ada secuil kenangan masa kecil di Tulungagung yang terus hidup mainan jadul buatan tangan.
Di Tulungagung, beberapa pengrajin lokal masih mempertahankan tradisi membuat mainan secara manual, mulai dari gasing kayu, mobil-mobilan dari seng, hingga balon tiup odol.
Itu merupakan yang khas dengan aromanya yang bikin nostalgia ketika mas kecil di Tulungagung.
Mainan seperti gasing kayu tidak hanya menghibur, tapi juga mengajarkan ketangkasan. Dibuat dari potongan kayu yang dipahat dan diampelas hingga halus, lalu diberi pewarna sederhana, gasing ini tetap digemari.
Begitu pula dengan balon tiup odol cairan berwarna yang ditiup lewat sedotan kecil hingga jadi gelembung besar, masih bisa ditemui di pasar atau dekat sekolah dasar.
Pengrajin mainan seperti ini biasanya tidak bekerja dari pabrik, melainkan dari rumah-rumah sederhana. Mereka mewarisi teknik dari generasi sebelumnya dan menjual langsung ke pasar tradisional, sekolah, atau lewat pedagang keliling.
Di Mana Bisa Ditemukan?
Mainan jadul ini sering muncul di:
Pasar tradisional (seperti Pasar Ngemplak atau Pasar Wage)
Sekitar sekolah dasar saat jam istirahat atau pulang sekolah
Acara hajatan atau pasar malam yang masih mengundang pedagang mainan keliling
Harga mainannya pun sangat terjangkau. Gasing dijual mulai Rp3.000, balon tiup odol sekitar Rp1.000 per tabung kecil murah meriah tapi penuh kenangan.
Mau lebih seru? Ajak anak-anak bikin mainan jadul di rumah. Beberapa ide:
Gasing sederhana: pakai tutup botol bekas dan tusuk sate
Balon tiup odol versi alami: bisa eksperimen dengan sabun cuci piring dan sedotan
Mobil-mobilan dari karton: manfaatkan kardus bekas dan sedotan untuk roda
Selain melatih kreativitas, ini juga jadi cara mengenalkan budaya dan mainan masa kecil pada generasi sekarang.
Mainan jadul buatan tangan bukan sekadar hiburan. Ia adalah pengingat bahwa kebahagiaan masa kecil tak selalu datang dari barang mahal.
Di Tulungagung, jejak nostalgia itu masih bisa ditemukan tinggal mau melihatnya atau tidak. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah