TULUNGAGUNG - Di tengah hiruk-pikuk zaman serba digital di Tulungagung, ada satu hal sederhana.
Itu masih bisa bikin hati hangat suara tukang keliling yang melintas di depan rumah warga Tulungagung.
Bukan sekadar penjual, mereka adalah bagian dari memori masa kecil dari suara khas sampai dagangannya yang bikin rindu ketika di Tulungagung.
- Suara Jadi Ciri Khas
Setiap tukang punya "tanda tangan" suara yang unik.
Tukang es tung-tung datang dengan dentingan ritmis kaleng di gerobaknya ting… tung… ting… tung…
Tukang bakso dorong dikenal dari bunyi tok-tok-tok saat memukul mangkuk atau kayu kecil di gerobaknya.
Ada juga penjaja mainan tiup, seperti balon atau peluit bebek, yang keliling sambil meniup bunyi nyaring memanggil anak-anak keluar.
Suara-suara itu bukan sekadar panggilan dagang, tapi juga penanda waktu dan suasana. Kadang jam 10 pagi sudah terdengar tukang sayur, sore hari giliran tukang gorengan, malam-malam tiba tukang sate.
Baca Juga: Tukang Sol Sepatu Keliling, Pekerjaan Lawas yang Masih Dicari di Tulungagung
- Waktu Favorit Mereka Lewat
Warga kampung atau komplek biasanya sudah hafal jadwal tidak resmi para tukang keliling ini.
Pagi hari (06.00–08.00): tukang bubur, jamu gendong, dan sayur mayur.
Siang menjelang sore (13.00–16.00): es krim keliling, penjaja mainan, atau roti keliling.
Sore hingga malam (17.00–20.00): tukang bakso, mie ayam, atau martabak.
Mengetahui pola ini bisa jadi kunci agar tak kelewatan kalau ingin beli.
Tips Biar Gak Kelewatan :
Kenali suara khasnya anak-anak biasanya paling cepat bereaksi, jadi ikuti insting mereka.
Pasang telinga di jam-jam rawan lewat kalau sedang ngidam, duduk santai di teras jadi trik jitu.
Jadi langganan tetap tukang biasanya hafal rumah pelanggan setia. Jangan sungkan minta mereka teriak nama atau bunyikan lonceng lebih keras saat lewat.
Meski sekarang banyak layanan pesan antar lewat aplikasi, kehadiran tukang keliling tetap tak tergantikan. Mereka hadir dengan sentuhan personal, cerita, dan kadang sapaan akrab yang tak bisa digantikan teknologi.
Setiap denting suara mereka adalah nostalgia tentang masa kecil, tentang kebersamaan, dan tentang rasa yang tak berubah sejak dulu. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah