TULUNGAGUNG- Musim kemarau tidak pernah datang tanpa tantangan. Bagi sebagian warga di daerah pedesaan Tulungagung, suara gemericik air bukan lagi hal yang mudah didengar.
Sumur-sumur yang biasanya di Tulungagung menjadi sumber utama kehidupan mulai mengering. Pompa air tidak bisa diandalkan. Air bersih menjadi barang langka.
Tapi di tengah situasi seperti ini, warga desa di Tulungagung tidak hanya berpangku tangan. Mereka punya solusi yang diwariskan secara turun-temurun mencari sumber air rahasia yang tidak diketahui banyak orang.
- Sendang Tersembunyi Sumber Air yang Dirawat Sejak Nenek Moyang
Di beberapa desa, ada tempat yang hanya diketahui oleh warga lokal biasanya disebut sendang atau mata air alami.
Lokasinya sering tersembunyi di balik kebun bambu, di sela-sela batu besar, atau bahkan di area hutan kecil yang jarang dikunjungi orang.
Airnya terus mengalir, meski tak deras. Tapi yang penting jernih dan bersih.
Yang menarik, tempat-tempat ini bukan hanya sumber air fisik, tapi juga sarat nilai budaya. Beberapa sendang bahkan dikeramatkan.
Warga percaya, selama air itu dirawat dan tidak disalahgunakan, maka desa tidak akan kekeringan total.
2. Akal Sehat dan Alat Sederhana: Bertahan dengan Kreatif
Kekurangan air membuat warga berpikir kreatif. Mereka menggunakan alat-alat sederhana untuk menyimpan dan mengalirkan air dengan efisien:
Drum bekas atau tong plastik dikubur sebagian ke dalam tanah, agar air di dalamnya tetap dingin dan tidak cepat menguap.
Bambu atau selang panjang disambungkan dari sumber air menuju rumah, meski alirannya kecil.
Penampungan dari terpal dibuat di halaman untuk menampung air hujan jika turun sebentar.
Jeriken berderet dipakai warga yang menempuh jarak jauh agar bisa membawa pulang lebih banyak air dalam sekali jalan.
Bukan teknologi tinggi, tapi cukup efektif. Bahkan, ada anak-anak muda desa yang memodifikasi sepeda motor mereka menjadi “angkutan air” dengan rak khusus di kanan-kiri tempat jeriken.
3. Etika Berbagi Air Solidaritas di Tengah Krisis
Menariknya, ada aturan tidak tertulis dalam masyarakat desa: air harus dibagi secara adil. Tidak boleh ada yang mengambil air terlalu banyak, apalagi jika itu dari sumber bersama.
Siapa pun yang melanggar, biasanya akan ditegur oleh sesepuh atau tetangga sekitar.
Di saat seperti ini, gotong royong kembali terasa sangat nyata. Anak-anak muda membantu warga tua menimba air.
Ibu-ibu berbagi ember cadangan dengan tetangga yang kehabisan. Bahkan, ada jadwal tidak resmi untuk bergantian mengambil air agar tidak rebutan.
Apa yang dilakukan warga desa bukan hanya bertahan, tapi menunjukkan kearifan lokal yang layak dihargai.
Mereka tidak panik, tidak menyalahkan keadaan. Justru, mereka menyatu dengan alam, menghargai setiap tetes air, dan menjaga keseimbangan dengan lingkungan.
Tradisi mencari sumber air tersembunyi ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang terutama yang tinggal di kota dan selama ini mengandalkan air ledeng tanpa berpikir dari mana air itu berasal.
Ketika sumur kering, yang muncul bukan hanya rasa haus.
Tapi juga rasa syukur, kesadaran, dan solidaritas. Kisah warga Tulungagung ini bukan sekadar tentang mencari air.
Tapi tentang bagaimana manusia bisa bertahan dengan cara yang sederhana, arif, dan saling peduli.
Di tengah dunia yang semakin modern, mungkin kisah-kisah seperti ini bisa mengingatkan kita bahwa bertahan hidup bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal hati dan kebersamaan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah