TULUNGAGUNG - Di beberapa desa di Tulungagung, kamu bisa menemukan pohon mangga, jambu, atau sirsak tumbuh liar di pinggir jalan.
Menariknya di Tulungagung, buah-buah dari pohon ini sering dibiarkan matang di pohonnya begitu saja tanpa pagar, tanpa pengawasan. Tapi jangan salah, bukan berarti kamu bebas ambil sesuka hati. Ada aturan tak tertulis yang harus dipatuhi boleh petik, asal sopan.
Beberapa desa di Kecamatan Kauman, Rejotangan, dan Gondang, Tulungagung dikenal punya deretan pohon buah yang tumbuh di tepi jalan kampung atau dekat sawah.
Kadang tumbuh dari tanah kosong milik desa, kadang juga di depan rumah warga yang memang sengaja dibiarkan.
Meski tidak dijaga, warga setempat sangat menjaga etika ini. Kalau ingin memetik, ada baiknya
Mengetuk pintu rumah terdekat dan sekadar bilang, “Bu, ini mangganya boleh dipetik?” Biasanya dijawab dengan ramah dan malah diajak ambil bareng.
Memberi hasilnya kembali ke pemilik rumah. Misal, setelah ambil jambu, disisihkan sedikit untuk pemilik pohon sebagai bentuk sopan santun.
Tidak rakus. Ambil secukupnya saja. Jangan sampai satu pohon dikuras habis untuk dijual.
Seorang warga bernama Budi, asal Sumbergempol, pernah ketahuan sedang memetik sirsak bareng temannya. Dia mengira pohon itu tak bertuan.
Ternyata milik seorang simbah yang tinggal sendirian. Alih-alih marah, simbah itu justru bilang, “Lain kali kalau mau, langsung minta saja.
Sekalian mampir, tak buatkan teh. Sejak itu, pohon sirsak tadi jadi tempat mampir tiap musim buah tiba dan obrolan pun jadi panjang di bawah pohon yang sama.
Pohon buah liar di Tulungagung bukan hanya soal hasil panen gratis, tapi simbol kepercayaan dan kebiasaan gotong-royong warga desa. Di sana, memetik buah pun ada seninya dan semuanya dimulai dengan satu sikap sederhana sopan.
Kalau kamu nemu pohon buah di pinggir jalan, jangan buru-buru ambil ya. Siapa tahu, kamu justru dapat cerita dan kenalan baru hanya dari sebutir mangga. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah