TULUNGAGUNG - Di beberapa desa di Tulungagung, ketika kebanyakan orang masih terlelap, banyak ibu-ibu sudah terbangun sejak pukul 03.00 pagi.
Bukan karena harus ke pasar tradisional di Tulungagung atau bekerja, tapi untuk satu rutinitas yang mungkin terdengar sederhana menyalakan tungku kayu.
Menyalakan kompor kayu di dapur tradisional bukan perkara mudah. Ada seni tersendiri bagi warga Tulungagung.
Yakni menyusun kayu tidak terlalu padat, menyiapkan daun kering sebagai pemantik, dan meniup bara dengan sabar. Agar api menyala sempurna semuanya harus dilakukan pelan-pelan agar dapur tak penuh asap.
Buat sebagian orang, ini merepotkan. Tapi bagi para ibu di kampung, ini justru saat paling tenang:
Cahaya temaram lampu minyak atau obor jadi penerang, sambil terdengar suara kayu terbakar dan panci mendidih perlahan.
Sesekali terdengar adukan sendok di cobek, atau suara ayam yang mulai berkokok.
Bau asap, kopi tubruk, dan wangi bawang tumis bercampur jadi aroma khas dapur pagi. Semua ini berlangsung sebelum adzan Subuh berkumandang suasana yang tidak bisa ditemukan di kota.
Tips: Cara Nyalakan Tungku Tanpa Banyak Asap
Pakai daun kering atau sabut kelapa sebagai pemantik alami
Jangan tumpuk kayu terlalu rapat, biar sirkulasi udara lancar
Gunakan kayu kering dan tua, bukan yang masih basah atau muda
Tiup api dari arah bawah, agar bara cepat menyala
Kebiasaan ini mungkin terlihat kuno, tapi justru di situlah pesonanya. Di tengah gempuran kompor gas dan alat dapur modern, dapur dengan tungku kayu tetap jadi simbol ketenangan, kehangatan, dan keteguhan tradisi ibu-ibu desa Tulungagung.
Mungkin, me time terbaik itu justru dimulai dari dapur, sebelum dunia benar-benar terbangun. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah