Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kurator Festival Budaya Spiritual (FBS) 2025 di Tulungagung, Benny Widyo Tegaskan Tidak Bertanggung Jawab Atas Anggaran

Sandy Sri Yuwana • Selasa, 1 Juli 2025 | 15:00 WIB

 

Undangan rapat dari disparbud terkait Festival Budaya Spiritual (FBS) 2025 di Tulungagung dihadiri para seniman di Pendapa Kanjengan, Kamis (19/6/2025).
Undangan rapat dari disparbud terkait Festival Budaya Spiritual (FBS) 2025 di Tulungagung dihadiri para seniman di Pendapa Kanjengan, Kamis (19/6/2025).

TULUNGAGUNG - Di tengah persiapan Festival Budaya Spiritual (FBS) 2025 yang akan digelar di Tulungagung pada 10–13 Juli mendatang, seniman sekaligus kurator, Benny Widyo, angkat bicara.

Dia mengaku bahwa peran kurator dalam festival ini difokuskan pada aspek konseptual dan artistik, dan tidak dilibatkan dalam perencanaan atau pertanggungjawaban anggaran di Festival Budaya Spiritual (FBS) 2025 di Tulungagung.

Menurut Benny, proses kurasi telah difinalisasi sejak pertengahan Juni, tepatnya setelah rapat koordinasi antara Tim Kurator, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung, dan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat (BKMA) pada 16 Juni 2025.

“Visi, tema utama Yatra Tuk Jiwa, kerangka program, dan jadwal makro festival sudah kami sepakati dalam forum tersebut,” jelas Benny.

Dia juga menambahkan bahwa rincian rundown telah dibahas kembali pada 18 Juni, namun belum sampai pada tahap teknis pelaksanaan maupun pembahasan anggaran secara rinci.

Sejak dokumen kerangka acuan kerja (KAK) yang disusunnya diserahkan, tidak ada lagi informasi atau ajakan rapat yang diterimanya terkait pertemuan lanjutan, terutama yang membahas keuangan.

“Saya tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan anggaran, bahkan hingga hari ini saya tidak tahu bagaimana skema anggaran itu disusun atau dijalankan,” tegasnya.

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) yang sebelumnya dikeluarkan Disbudpar Tulungagung dan kini sedang diperbarui oleh BKMA, tanggung jawab kurator memang terbatas pada pengawalan substansi dan supervisi artistik, bukan aspek teknis atau administrasi.

Dalam menjalankan tugasnya, Benny lebih memilih untuk fokus pada penguatan program-program yang dipercayakan kepada komunitas, seperti Cahya Swara Citra, Tirta Pustaka, dan Dolanan Pring. 

Dia juga terlibat aktif dalam koordinasi publikasi, dokumentasi, dan agenda penerbitan sebagai bentuk upaya menjaga prinsip inklusif dan kesinambungan pengetahuan dalam festival ini.

“Saya tetap berkomitmen mendampingi proses, sejauh tanggung jawab itu memang diberi ruang sesuai porsinya. Saya menjaga prinsip profesionalisme, partisipasi, dan etika kolektif,” pungkasnya.

Pernyataan ini menjadi penting di tengah antusiasme publik terhadap FBS, sekaligus memperjelas peran strategis kurator dalam mengarahkan narasi dan konten festival, tanpa terseret ke dalam ranah teknis administrasi yang bukan menjadi tanggung jawabnya. (sri)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#2025 #tulungagung #Festival Budaya Spiritual