TULUNGAGUNG - Di tengah modernisasi yang merambah desa-desa di Tulungagung, masih ada tradisi sederhana tapi sarat makna yang bertahan.
Di beberapa wilayah Tulungagung tradisi sederhana yaitu kebiasaan saling mengirim nasi berkat.
Uniknya, tradisi ini di Tulungagung tidak hanya hadir saat hajatan besar seperti selamatan atau kenduri, tetapi juga muncul spontan saat panen raya atau ketika ada tetangga yang sedang sakit.
Di desa-desa seperti Ngunut, Rejotangan, hingga Kauman, warga masih sering saling mengirim nasi berkat saat hasil panen melimpah.
Seolah menjadi cara membagi rezeki tanpa pamer, nasi berkat dikirim diam-diam atau cukup dititipkan ke anak-anak agar diberikan ke rumah tetangga.
Demikian pula ketika ada yang sakit, keluarga sekitar secara sukarela mengirimkan nasi lengkap sebagai bentuk empati dan dukungan moral.
Baca Juga: Beli Jajanan Pakai Daun di Tulungagung jadi Tradisi Ramah Lingkungan yang Masih Bertahan
Isi nasi berkat umumnya sederhana namun menggugah selera. Biasanya terdiri dari:
Nasi putih atau nasi gurih
Oseng tempe atau tahu
Urap daun singkong
Telur rebus atau ayam suwir
Sambal kluwek atau sambal terasiKadang ditambah buah musiman atau kerupuk, semua dibungkus dalam daun pisang atau kertas cokelat agar tetap hangat dan wangi
Momen paling ramai biasanya:
Setelah panen raya: sebagai ucapan syukur dan ajakan berbagi.
Saat ada tetangga sakit atau berduka: sebagai bentuk solidaritas.
Menjelang Ramadan atau Lebaran: untuk mempererat hubungan sosial di kampung.
Baca Juga: Tradisi Menjemur Kasur di Tulungagung Antara Warisan Leluhur dan Penolak Energi Negatif
Tradisi ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, tapi mencerminkan semangat gotong royong dan kepekaan sosial.
Orang yang menerima nasi berkat merasa diperhatikan, sementara yang memberi merasa terhubung dan ikut meringankan beban.
Jika Anda pendatang atau belum pernah ikut tradisi ini, berikut tips agar diterima dengan hangat:
Mulailah dari tetangga dekat, kirim nasi sederhana dengan niat tulus.
Tidak harus mahal, yang penting bersih dan rapi.
Titip pesan hangat, misalnya: "Ini rejeki panenan kemarin, semoga berkah ya."
Ikut menerima dengan senyum, meski belum bisa membalas, niat baik akan tetap dihargai.
Tradisi ini mengajarkan bahwa perhatian kecil seperti sebungkus nasi hangat bisa menjadi jembatan besar antarhati warga.
Di Tulungagung, nasi berkat bukan cuma makanan, tapi juga simbol kasih sayang yang mengikat antarwarga dalam keheningan yang penuh makna. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah