TULUNGAGUNG - Di tengah hamparan padi yang menguning di Tulungagung, bukan cuma suara mesin panen atau cangkul yang terdengar.
Tapi juga suara ibu-ibu di Tulungagung penjual es yang memanggil “Es teh dingin, gorengan anget, rokokan dulu Pak!”
Inilah pemandangan unik yang hanya muncul saat musim panen lapak dadakan di tengah sawah di Tulungagung.
Baca Juga: Tips Buka Warung Kopi Pinggir Sawah Bukan Sekadar Kopi, Tapi Soal Suasana
Setiap musim panen tiba, para petani di Tulungagung dan sekitarnya bisa menemukan warung kecil dari terpal seadanya, meja kayu, dan termos besar berisi teh manis.
Lokasinya bisa di pematang sawah atau pojok yang agak teduh, strategis untuk petani yang lelah memanen.
Baca Juga: Tips Naik Motor ke Sawah Ala Petani Legendaris Tulungagung Biar Nyaman
Warung ini bukan bisnis besar, tapi sangat dibutuhkan.
Penjualnya biasanya warga sekitar yang peka melihat peluang: menyediakan jajanan cepat dan tempat rehat sambil ngobrol.
Tak perlu baliho atau promosi cukup kabar dari mulut ke mulut di antara petani.
Baca Juga: Kegiatan Unik saat Musim Hujan di Tulungagung , dari Main Air di Sawah hingga Nikmati Wedang Uwuh
Apa yang dijual? Jangan harap makanan mewah, tapi justru kesederhanaannya bikin nagih. Beberapa menu khas yang sering ditemui:
Es teh manis atau jeruk dingin
Tahu isi dan tempe goreng hangat
Rokok eceran dan permen karet
Kacang rebus, kerupuk, atau singkong goreng
Harganya merakyat, kadang bisa “dibayar nanti”. Ini membawa kita ke cerita unik yang selalu ada setiap musim panen...
Banyak penjual sudah hafal: ada saja petani yang datang tanpa uang, tapi tetap bisa minum es dan ngudud. “Catat dulu, Mbak. Nanti saya bayar habis jual gabah,” begitu kalimat langganan yang sudah seperti budaya.
Kadang, utangnya bukan cuma sekali. Bahkan ada yang bercanda: “Kalau utang saya lunas, musim panen besok lapak ini buka lagi ya.”
Momen ini bukan cuma jual beli, tapi bagian dari kehangatan sosial antarwarga.
Lapak dadakan di sawah bukan sekadar warung, tapi bagian dari lanskap budaya pedesaan yang hanya muncul saat musim panen.
Ia jadi tempat istirahat, tempat cerita, bahkan tempat bercanda. Bagi petani, ini bukan cuma soal gorengan dan es teh tapi juga rasa dihargai setelah seharian bekerja di bawah matahari. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah