TULUNGAGUNG - Di beberapa desa di Tulungagung, ada satu pemandangan khas yang selalu muncul usai acara hajatan.
Sungai kecil di Tulungagung mendadak ramai oleh ibu-ibu dan pemuda yang mencuci alat makan bersama.
Sendok, piring, baskom besar, hingga gelas plastik diturunkan ke sungai bukan sekadar untuk dibersihkan, tapi juga sebagai bagian dari tradisi gotong royong yang masih lestari di Tulungagung.
Setelah resepsi pernikahan atau selamatan besar, warga tak langsung bubar.
Mereka justru berkumpul lagi keesokan harinya untuk membantu tuan rumah membereskan semua perlengkapan makan.
Tempat favorit? Sungai kecil di pinggir desa. Selain hemat air, mencuci di sungai dianggap lebih praktis karena bisa langsung mencuci dalam jumlah besar.
Aktivitas ini bukan sekadar urusan dapur, tapi juga momen sosial. Ada yang saling berbagi cerita, tertawa soal kejadian lucu saat hajatan, bahkan terkadang ada yang membawa kopi atau gorengan sebagai teman ngobrol di pinggir sungai.
Baca Juga: Sungai Ngrowo: Sungai Terpanjang dan Tertua di Tulungagung
Sungai mendadak jadi tempat paling ramai. Obrolannya bisa dari soal tetangga, anak-anak muda yang bantu hajatan, sampai cerita soal jodoh dan masa lalu.
Tak jarang, tradisi ini juga jadi momen bertemunya warga yang jarang ngobrol karena sibuk.
Meski mulai banyak yang beralih ke jasa katering dengan peralatan sekali pakai, di banyak desa, tradisi ini masih hidup.
Terutama di daerah yang menjaga kuat nilai gotong royong. Bahkan di beberapa tempat, tradisi ini jadi momen yang ditunggu, karena jadi semacam "after party" versi warga desa.
Tradisi sederhana ini memperlihatkan bahwa gotong royong bukan cuma soal kerja bersama, tapi juga tentang menjaga hubungan antarwarga.
Di pinggir sungai yang jernih, sambil mencuci piring, warga sebenarnya sedang "mencuci" jarak sosial yang kadang tak terasa muncul. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah