TULUNGAGUNG - Di tengah kesibukan pagi yang padat di Tulungagung, ada satu pemandangan yang selalu sama setiap hari.
Di beberapa sudut desa dan kota kecil di Tulungagung sekelompok tukang sayur keliling duduk melingkar di bawah pohon besar.
Bukan sekadar berteduh, pohon ini jadi tempat lepas lelah, minum teh hangat, bahkan bertukar cerita mulai dari harga cabai, kabar pasar, hingga kabar keluarga.
Setiap wilayah biasanya punya satu titik favorit. Misalnya, pohon beringin di dekat Pasar Ngunut, pohon trembesi di pinggir jalan desa Campurdarat, atau pohon jambu air tua di sudut sawah dekat Boyolangu.
Letaknya strategis teduh, mudah dijangkau, dan cukup jauh dari lalu lintas ramai.
Para tukang sayur sudah hafal, jam 08.00 sampai 09.00 pagi adalah waktu singgah. Biasanya mereka baru saja menyusuri gang demi gang, naik motor atau gerobak, dan butuh waktu istirahat sebelum lanjut menjajakan dagangan ke titik berikutnya.
Obrolannya? Campur aduk. Ada yang cerita rezeki hari itu “Alhamdulillah laku semua, Bu,” ada juga yang curhat soal pelanggan yang suka ngutang tapi lupa bayar.
Kadang, jadi forum dadakan buat saling tukar info: pasar mana yang sepi, harga tomat di pengepul, atau gosip kampung yang sedang hangat.
Lucunya, ada juga tukang sayur yang sebenarnya tidak terlalu kenal satu sama lain, tapi karena sering ketemu di bawah pohon itu, jadi akrab.
Bahkan pernah ada yang dapat jodoh karena sering ngadem bareng!
Bukan cuma tukang sayur. Kadang, ojek online lokal, pedagang keliling es, sampai ibu-ibu pembeli yang capek jalan kaki juga nimbrung.
Tapi yang paling rutin ya tukang sayur. Mereka menyebut titik ini “basecamp sayur” tempat nongkrong resmi yang tak pernah diumumkan tapi selalu didatangi.
Pohon itu jadi saksi diam dari kehidupan keras yang tetap hangat. Bukan sekadar batang kayu dan daun rimbun, tapi jadi tempat untuk bernafas sejenak sebelum kembali berjuang.
Mungkin, kalau pohon itu bisa bicara, ia akan hafal suara tawa dan keluhan mereka satu per satu. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah