Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mainan Alam Desa di Tulungagung, Tawa Anak-Anak Tradisi yang Masih Hidup saat Gadget Tak Bisa Gantikan Keceriaan Sore di Lapangan Desa

Yoga Dany Damara • Kamis, 3 Juli 2025 | 23:00 WIB
Di tengah dunia yang makin modern termasuk di Tulungagung, di mana anak-anak kota sibuk menatap layar ponsel dan tablet. Permainan egrang dari alam terbuat dari bambu masih bertahan hingga kini.
Di tengah dunia yang makin modern termasuk di Tulungagung, di mana anak-anak kota sibuk menatap layar ponsel dan tablet. Permainan egrang dari alam terbuat dari bambu masih bertahan hingga kini.

TULUNGAGUNG - Di tengah dunia yang makin modern termasuk di Tulungagung, di mana anak-anak kota sibuk menatap layar ponsel dan tablet.

Namun ada pemandangan yang berbeda dan menghangatkan hati di beberapa sudut desa Tulungagung.

Sore hari biasanya di Tulungagung masih dipenuhi suara tawa riang anak-anak yang berlarian, tertawa, dan bermain mainan tradisional buatan sendiri tanpa listrik, tanpa internet, tapi penuh kebahagiaan.

Mainan seperti egrang bambu, bekel batu, hingga mobil-mobilan dari botol bekas masih eksis dan dicintai oleh anak-anak desa.

Mereka bermain bekel dengan batu kecil dan bola karet, sambil duduk melingkar di halaman rumah.

Tak jauh dari sana, dua anak terlihat berjalan dengan egrang keseimbangan dijaga sambil sesekali terjatuh dan tertawa.

Di sisi lain, anak-anak mendorong mobil-mobilan rakitan dari botol plastik bekas, roda dari tutup botol, dan gandarnya terbuat dari kawat yang dilengkungkan.

Ada juga yang membuat layang-layang dari kertas koran dan kerangka bambu tipis, lalu dikejar-kejar angin saat musim kemarau. Kadang, mereka bermain ketapel, gasing kayu, atau kuda lumping dari kardus.

Permainan seperti ini bukan hanya membuat badan sehat karena aktif bergerak, tapi juga mengasah kreativitas dan kemandirian.

Menariknya, sebagian besar mainan ini tidak dibeli, melainkan dibuat sendiri oleh anak-anak, kadang dibantu ayah atau kakek mereka.

Proses membuat mainan menjadi aktivitas tersendiri yang mempererat hubungan keluarga.

Misalnya, egrang dibuat dari bambu yang dipotong dan dibelah, lalu dipaku atau diikat agar kuat.

Mobil-mobilan dari botol bekas biasanya dirakit dengan alat sederhana seperti pisau kecil dan kawat bekas hanger.

Bagi orang tua, mainan ini bukan hanya pengisi waktu anak. Mereka merasa ikut menjaga warisan masa kecil yang dulu juga mereka mainkan.

Ada rasa bangga saat melihat anaknya bisa tertawa dengan mainan sederhana yang mereka buat bersama.

Biasanya, anak-anak ini mulai keluar bermain setelah pulang sekolah atau menjelang sore, sekitar pukul 4 hingga magrib. Mereka berkumpul di lapangan desa, teras mushola, atau tanah lapang di dekat sawah.

Tidak ada jadwal pasti, tapi mereka seakan tahu kapan harus berkumpul. Satu anak mulai bermain, yang lain segera datang menyusul.

Mereka bermain tanpa banyak aturan, tapi penuh kebersamaan. Kalau salah satu mainan rusak, teman lainnya akan membantu memperbaiki.

Jika ada yang menangis karena kalah, sebentar kemudian sudah tertawa lagi karena tertarik dengan mainan lain.

Di era digital ini, pemandangan seperti ini makin langka. Tapi justru karena itulah, keberadaan anak-anak yang masih bermain dengan mainan dari alam dan bahan bekas ini menjadi sangat istimewa.

Mereka bukan sekadar bermain mereka sedang melestarikan cara bahagia yang lebih jujur, murah, dan mendekatkan manusia dengan alam.

Mainan tradisional mungkin tak bisa bersaing dengan teknologi dalam hal visual dan suara. Tapi dalam hal membangun karakter, kemandirian, dan kebersamaan, mainan-mainan ini jelas punya nilai yang sangat besar.

Dan selama masih ada anak-anak yang tertawa di sore hari dengan egrang bambu di tangannya, kita tahu bahwa tradisi itu belum benar-benar hilang. (*)

 

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#anak-anak #tulungagung #alam #permainan