TULUNGAGUNG - Meski diterpa kondisi cuaca tak menentu, produksi perikanan budidaya di Tulungagung dalam beberapa bulan terakhir justru menunjukkan grafik naik.
Ada berbagai faktor lain yang jadi penyebab meningkatnya jumlah produksi ikan budidaya di Tulungagung.
Kabid Pengelolaan Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Tulungagung, Sri Yanti mengatakan, secara umum produksi perikanan budidaya di semester pertama tahun ini lebih tinggi dibanding tahun lalu di periode yang sama.
"Untuk produksi perikanan (budidaya) kita ada kenaikan dibanding dengan tahun kemarin. Kurang lebih 14 persen kenaikannya," sebutnya, Kamis (3/7/2025).
Data yang dihimpun, tahun lalu dinas ditarget produksi ikan budidaya sebanyak 46.334 ton. Hingga akhir tahun, jumlah produksi mencapai 49.221 ton.
Di tahun ini, dinas dipatok target produksi ikan budidaya sebanyak 48.653,5 ton. Lalu, jumlah produksi di enam bulan pertama tahun ini mencapai 26.192 ton.
Yanti menambahkan, ada banyak masa libur panjang di enam bulan pertama di tahun ini. Kondisi itu mendorong peningkatan jumlah permintaan ikan budidaya dari pasar yang turut menyebabkan peningkatan produksi oleh para pembudidaya.
"Itu otomatis bisa menambah penjualan ikan. Karena di momen kumpul keluarga itu kebanyakan mereka ada kegiatan makan bersama," tandasnya.
Ada berbagai komoditas ikan budidaya. Mulai dari gurami, lele, hingga patin. Perempuan berjilbab ini menyebut wilayah Tulungagung merupakan penghasil ikan gurami terbesar se-Jawa Timur.
"Dan (jumlah produksi ikan gurami) di Jawa Timur itu pun terbesar di Indonesia," ungkapnya.
Meski suplai berikut permintaan terpantau meningkat, harga ikan budi daya justru tak banyak mengalami perubahan. Kondisi ini disebabkan oleh ketersediaan barang di tengah peningkatan jumlah permintaan dari konsumen.
Peningkatan harga justru terjadi jika stok yang ada tak mampu memenuhi jumlah peningkatan permintaan.
"Iya. Mereka para pedagang kan diminta jatah atau kuota dari konsumen. Kalau ndak terpenuhi kan mereka tetap berusaha mencari, meskipun harga tinggi ya tetap diambil," katanya.
Dia menambahkan, per Kamis (3/7/2025), harga ikan gurami kering mencapai Rp 29 ribu per kilogram (kg) dan gurami basah mencapai Rp 32 ribu per kg. Lalu, ikan lele di angka Rp 18 ribu per kg dan ikan patin mencapai Rp 15,5 ribu per kg.
"Kalau (distribusi) ikan konsumsi kita di Jawa Tengah. Ada yang ke Jakarta, Bekasi, Jawa Barat. Luar Jawa ada. Ini masih merintis sedikit," paparnya.
Disinggung soal faktor alam, Yanti mengungkapkan bahwa cuaca jadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produksi perikanan budi daya.
Meski begitu, hal ini sudah diantisipasi oleh para pembudidaya di Tulungagung dengan berbagai metode tertentu.
"Iya, berpengaruh juga dengan produksi. Tapi karena mereka orang budi daya, sudah paham cuaca seperti ini, treatment apa yang harus saya lakukan, sudah paham," jelasnya.
"Kaya gini, cuaca dingin, mereka ada trik bisa sering-sering ganti air, manajemen kualitas air, kemudian ada pengurangan jumlah pakan atau ada ikan yang dipuasakan," kata Yanti. (dit/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah