TULUNGAGUNG- Lapangan di Tulungagung bukan cuma tempat bola, tapi juga pusat kehidupan desa.
Di setiap sudut Tulungagung, hampir selalu ada satu ruang terbuka yang jadi jantung aktivitas kampung lapangan desa.
Meski lapangan desa di Tulungagung bentuknya sederhana tanah lebar, kadang rumputnya tak merata, tanpa pagar atau tribun fungsinya luar biasa.
Lapangan desa bukan cuma soal olahraga. Namun pusat kehidupan sosial, budaya, bahkan ekonomi warga.
Di kampung-kampung Tulungagung, satu lapangan bisa berubah-ubah fungsi tergantung waktu dan kebutuhan.
Sore hari: jadi arena bola plastik anak-anak
Pagi hari: kadang ibu-ibu senam bersama
Hari tertentu: berubah jadi pasar kaget, tempat pedagang lokal gelar dagangan
Musim hajatan: tiba-tiba penuh tenda, panggung, dan kursi undangan
Jelang 17 Agustus jadi markas latihan lomba dan pertunjukan warga.
Bahkan ada cerita unik satu minggu sebelumnya tempat ini jadi tempat main voli antar RT, tapi akhir pekan sudah disulap jadi panggung dangdutan.
Semuanya berjalan tanpa bentrokan, karena semua tahu aturan tak tertulisnya.
Latihan drumband, sound system, dan pasar pagi lapangan desa juga jadi tempat latihan drumband anak SD, kadang sambil diawasi bapak-bapak sambil ngopi di pinggir.
Pernah juga jadi tempat gelar sound system lokal yang mengetes speaker sampai terdengar ke kampung sebelah.
Pagi-pagi di hari pasaran, muncul deretan pedagang dadakan jualan sayur, baju, sandal, mainan anak, hingga makanan khas desa.
Warga yang biasa malas keluar rumah pun tumplek blek di sana sekadar belanja, ngobrol, atau cari hiburan gratis.
Salah satu kenangan yang paling melekat bagi banyak warga kampung adalah momen saat listrik padam. Bukan momen panik, justru jadi ajang kumpul massal di lapangan.
Anak-anak datang bawa senter atau lampu minyak. Orang tua duduk di tikar, ngobrol ngalor-ngidul, kadang membahas cerita masa muda.
Beberapa bawa gitar dan bernyanyi bareng. Suasana gelap, tapi hangat karena di sanalah rasa kebersamaan terasa nyata.
Agustusan? Lapangan pusat segala perayaan bulan Agustus adalah waktu paling meriah.
Lapangan desa berubah jadi arena penuh warna. Mulai dari lomba makan kerupuk, tarik tambang, balap karung, hingga panjat pinang semua digelar di situ.
Malamnya, warga berkumpul lagi untuk nonton pentas seni anak-anak, drama ibu PKK, atau konser kecil ala kampung.
Di situ juga kita bisa lihat bagaimana semua warga tua muda, laki-laki perempuan terlibat. Ada yang bagian dekorasi, ada yang urus konsumsi, ada yang ngatur musik.
Lapangan jadi simbol kerja sama dan kebanggaan kampung. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah