TULUNGAGUNG - Di beberapa sudut Tulungagung, ada desa-desa yang seperti punya ‘bahasa rahasia’ sendiri.
Namun di Tulungagung, bukan bahasa resmi, bukan pula dialek umum Jawa Timuran.
Tapi deretan kata-kata unik, plesetan, dan kode-kode yang hanya dimengerti oleh warga Tulungagung. Bagi orang luar? Bisa terdengar seperti bahasa planet lain.
Beberapa kata di bawah mungkin bikin bingung siapa pun yang baru pertama kali mendengarnya.
Kata gombal memang artinya kain lap atau baju lusuh, tapi dalam konteks ini artinya bisa melebar jadi baju murah.
Contoh lainnya:
“Gondholan” – artinya anak kecil yang nempel terus ke ibunya.
“Ngudang” – bukan manggil udang, tapi ajakan kumpul dadakan.
“Ndang-ndung” – kode buat minta pergi tapi malu-malu.
Kebanyakan istilah ini muncul dari obrolan sehari-hari, diwariskan dari generasi ke generasi.
Kadang berawal dari plesetan, sindiran lucu, atau bahasa anak-anak yang akhirnya jadi umum dipakai.
Bahkan ada kata yang hanya digunakan di satu RT, tapi sudah dianggap sebagai bagian dari identitas.
Ada juga kata yang muncul dari kebutuhan ‘menyembunyikan makna’.
Misalnya, saat remaja membahas hal sensitif di depan orang tua, atau ibu-ibu ngerumpi tanpa bikin heboh tetangga.
Bagi warga desa, penggunaan kosakata ini jadi semacam ‘tanda keanggotaan’.
Siapa yang paham, berarti “orang dalam”. Ini bikin komunikasi terasa lebih akrab, cair, dan penuh guyonan.
Bahkan anak muda sekarang pun tetap melestarikan kata-kata ini karena dianggap lucu dan khas.
Namun, bagi tamu atau pendatang, ini bisa jadi momen canggung.
Banyak yang cuma bisa senyum bingung saat mendengar percakapan warga lokal.
Tapi justru di situlah daya tariknya: bahasa ini bukan cuma alat komunikasi, tapi juga cermin keunikan budaya desa. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah