TULUNGAGUNG- Di tengah arus zaman yang makin digital, masih ada sudut-sudut Tulungagung yang jadi saksi hidup permainan tradisional anak-anak.
Gang-gang sempit di kampung Tulungagung, yang dulu jadi arena seru setiap sore, ternyata belum benar-benar kehilangan gemanya.
Di Tulungagung suara tawa anak-anak masih sering terdengar, berlari-lari sambil main gobak sodor, benthik, kelereng, hingga petak umpet saat malam gelap karena listrik padam.
- Gobak Sodor Taktik dan Teriakan Seru
Permainan satu ini masih sering dimainkan di gang-gang dengan sedikit area lapang.
Anak-anak membagi dua tim, lalu berlomba saling menghadang atau menerobos garis. Teriakan “jaga tengah!” atau “lari sekarang!” masih terasa akrab.
Bahkan kadang orang tua yang lewat ikut tersenyum melihat anak-anak meneruskan permainan masa kecil mereka dulu.
- Benthik Bambu, Tanah, dan Strategi
Benthik, yang hanya butuh dua batang bambu pendek dan tanah lapang sedikit, juga masih hidup. Biasanya dimainkan sore hari.
Kadang, anak-anak harus rebutan tempat bermain karena area gang yang sempit sering juga jadi tempat motor lalu-lalang.
Tapi semangat mereka tak luntur tanah dipukul, bambu dilontarkan, dan sorakan teman-teman makin menyemarakkan suasana.
Baca Juga: Grontol, Jajanan Tradisional Tulungagung jadi Favorit Warga dan Legendaris hingga Bikin Nostalgia
- Kelereng Si Kecil yang Bikin Tertantang
Meski kelereng semakin sulit ditemukan di toko mainan modern, anak-anak di kampung masih menyimpannya sebagai harta berharga.
Di sudut gang yang agak datar, lingkaran digambar, dan permainan pun dimulai. Satu per satu kelereng ditembak, sambil memamerkan teknik andalan.
Kadang sampai ada turnamen dadakan antar RT!
Baca Juga: 8 Senjata Tradisional Indonesia dari Berbagai Daerah yang Pernah Dipakai dalam Sejarah Perjuangan
- Petak Umpet saat Listrik Padam
Yang paling ikonik, tentu saja petak umpet malam hari saat listrik mati. Begitu lampu padam, anak-anak seolah sudah tahu: ini saatnya main!
Lorong gelap, suara cicak, dan bayangan samar justru bikin petak umpet makin menegangkan. Teriakan “Dapet!” disusul tawa dan langkah kaki yang lari menyebar jadi kenangan yang sulit tergantikan.
Di balik kesederhanaan dan keterbatasan ruang, permainan tradisional di gang-gang Tulungagung adalah warisan budaya kecil yang kaya makna.
Ia mengajarkan kerja sama, strategi, hingga sportivitas semua tanpa perlu gadget atau kuota.
Mungkin tak semua gang masih punya ini, tapi di tempat-tempat tertentu, tradisi ini masih hidup, dimainkan dengan semangat yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Maka jangan heran, jika suatu sore di Tulungagung, kamu lewat gang kecil dan mendengar suara riuh… bisa jadi itu bukan televisi, tapi anak-anak yang sedang meneruskan cerita lama cerita permainan kampung yang belum padam. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah