TULUNGAGUNG- Di banyak kampung, terutama di Tulungagung, kucing bukan sekadar hewan liar.
Kucing di Tulungagun adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, meski statusnya tidak pernah resmi jadi “peliharaan”.
Kucing di Tulungagung hidup bebas, tidur di mana saja, makan dari mana saja, tapi anehnya mereka tetap punya “rumah” dan “majikan” yang enggan mengakui.
Kalau kamu pernah tinggal di kampung, pasti akrab dengan nama-nama seperti Oyen, Item, Belang, atau bahkan nama absurd seperti Gendut, Mbul, Pipit, sampai Cempluk.
Nama-nama ini biasanya muncul dari penampakan fisik atau kebiasaan kucing itu sendiri. Misalnya
Oyen: kucing oranye, biasanya paling manja dan ngambekan.
Belang: motif tubuhnya belang-belang, kadang galak.
Item: hitam pekat, suka muncul malam hari.
Gendut: ya karena dia memang gemuk, hasil nyambangi banyak dapur.
Lucunya, hampir semua orang di satu RT bisa saja pernah ngasih makan kucing yang samatapi pura-pura gak tahu.
Ibu-ibu biasanya menyisihkan nasi dan sisa ikan, diam-diam ditaruh di piring plastik belakang rumah. Anak-anak suka kasih tulang ayam hasil makan bareng.
Ada juga bapak-bapak yang tiap malam pulang dari ronda, masih sempat ngasih sisa gorengan buat si Oyen yang nunggu di pojokan.
Tapi kalau ditanya, semua bilang, “Lho, bukan kucingku kok…”
Anehnya, saat kucing kampung ini gak kelihatan dua-tiga hari, mendadak semua jadi detektif. “Oyen kok gak muncul ya?”, “Belang udah tiga hari gak lewat sini lho…”
Anak-anak mulai tanya-tanya tetangga. Ibu-ibu cari di balik tumpukan kayu atau di bawah kolong rumah.
Bahkan kadang ada yang minta tolong manggilin pakai suara khas: “Miii~ miii~ miii~”
Kalau akhirnya si kucing pulang biasanya dengan wajah lusuh dan bekas berkelahi semua lega.
Kucing kampung memang bukan peliharaan resmi. Gak ada kalung, gak pernah dimandiin, apalagi vaksin.
Tapi mereka tahu betul siapa yang sayang, siapa yang rela bagi nasi, dan siapa yang bakal panik kalau mereka gak pulang.
Kucing kampung mungkin gak punya kandang, tapi mereka punya kampung dan itu rumah paling hangat buat mereka. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah