TULUNGAGUNG - Di desa di Tulungagung, hewan peliharaan bukan sekadar binatang mereka adalah bagian dari keluarga.
Di desa di Tulungagung Dari ayam jago yang jadi kebanggaan, kambing yang diajak main tiap sore, semua punya tempat istimewa di hati anak-anak desa.
Suasana sore hari di desa di Tulungagung sering dihiasi suara anak-anak yang memanggil kambing peliharaannya sambil tertawa, atau duduk di bawah pohon sambil memberi makan burung emprit dalam sangkar bambu buatan sendiri.
Tak jarang, anak-anak sudah terbiasa merawat hewan sejak kecil. Mereka memberi makan, membersihkan kandang, bahkan mengobati hewan yang sakit dengan cara tradisional modal utamanya cuma nekat dan kasih sayang.
Ayam jago juga punya kelas tersendiri. Tiap kampung pasti ada satu atau dua anak yang bangga dengan ayam jago andalannya.
Kadang, ayam-ayam ini diikutkan adu gengsi: bukan untuk judi, tapi semacam “kontes tak resmi” di lapangan kosong belakang rumah. Sorak-sorai teman-teman jadi semangat tambahan.
Kehangatan hubungan antara anak-anak dan hewan peliharaan di desa mengajarkan banyak hal.
Tentang tanggung jawab, kasih sayang tanpa pamrih, dan kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
Di era serba digital ini, cerita seperti ini jadi pengingat manis bahwa cinta bisa tumbuh dari kandang ayam, kandang kambing, atau dari sangkar kecil burung emprit yang terus berkicau. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah
Sumber : DIOLAH