TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, musik bukan sekadar hiburan namun sudah jadi bagian dari keseharian.
Di Tulungagung mulai dari warung kopi di pinggir jalan sampai angkutan yang ngetem berjam-jam, suara lagu-lagu khas kerap terdengar mengalun.
Dari dangdut koplo yang enerjik sampai lagu-lagu lawas yang penuh kenangan, inilah soundtrack harian warga kampung yang mengiringi aktivitas warga Tulungagung.
Bagi banyak warung kopi, radio tua atau speaker Bluetooth kecil menjadi teman setia.
Setiap pagi, biasanya lagu-lagu lawas atau campursari diputar untuk menemani bapak-bapak ngopi sambil baca koran.
Menjelang siang, giliran dangdut koplo dan lagu viral yang menguasai udara. Lagu bukan cuma latar suara, tapi juga alat pemersatu.
Tak jarang, pengunjung warung saling menyahut lirik, bahkan bersautan layaknya karaoke dadakan.
Di angkot, suasananya tak kalah hidup. Lagu jadi semacam "teman ngobrol" bagi sopir dan penumpang yang diam.
Ada angkot yang terkenal selalu memutar lagu “Pamer Bojo” atau “Secawan Madu” dengan volume nyaris penuh, seolah jadi ciri khas kendaraan itu sendiri.
Beberapa lagu memang sudah seperti “lagu wajib” yang hampir selalu terdengar di tempat-tempat tertentu. Misalnya:
“Ojo Dibandingke” – Farel Prayoga, lagu ini sering diputar di warung-warung saat pagi atau sore hari. Suaranya yang merdu dan liriknya yang sederhana cocok jadi hiburan ringan.
“Kartonyono Medot Janji” – Denny Caknan, lagu galau yang sering muncul di malam hari, saat suasana warung mulai lengang. Cocok buat yang lagi baper sambil ngopi.
“Pamer Bojo” – Didi Kempot, jadi lagu favorit bapak-bapak. Bahkan ada warung yang khusus mutar ini setiap hari jam 5 sore.
“Sayang” – Via Vallen, salah satu lagu koplo yang melegenda. Di angkutan, lagu ini bisa diputar berulang-ulang tanpa ada yang protes.
“Secawan Madu” – Elvy Sukaesih, lagu ini sudah seperti lagu wajib di angkot jalur kota. Banyak penumpang yang hafal liriknya meski awalnya hanya dengar sepintas.
Baca Juga: Lagu-Lagu Jawa yang Sering Diputar di Pasar Tulungagung, Suara Pagi yang Menenangkan
Ada banyak cerita unik yang muncul dari kebiasaan memutar lagu di warung atau angkutan. Misalnya, di salah satu warung kopi dekat pasar, ada aturan tak tertulis: “Kalau lagunya sudah masuk ref, nggak boleh ganti channel.” Saking cintanya sama lagu.
Musik di warung dan angkot bukan sekadar hiburan. Ia adalah bagian dari budaya lokal, dari suasana yang hangat hingga cerita-cerita lucu yang mengikat satu sama lain.
Lagu-lagu ini adalah pengiring hari, pelengkap obrolan, bahkan penyambung kenangan. Maka jangan heran kalau saat kamu duduk di warung pinggir jalan atau naik angkutan, kamu malah ikut nyanyi dalam hati. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah