TULUNGAGUNG - Di banyak desa di Tulungagung, pagi hari bukan sekadar awal hari tapi sebuah ritual yang hampir sakral.
Begitu fajar menyingsing dan embun masih melekat di daun, warga desa di Tulungagung sudah punya rutinitas khas yang seolah jadi warisan turun-temurun.
Bunyi sapu lidi yang bersentuhan dengan tanah basah terdengar dari ujung gang ke ujung lainnya di desa di Tulungagung.
Para ibu masih dengan daster dan rambut digelung mulai menyapu halaman rumah, membersihkan dedaunan, dan menyiram pot-pot bunga.
Sementara itu, aroma kopi hitam kental mulai tercium dari dapur-dapur sederhana yang dapurnya masih pakai tungku atau kompor gas kecil.
Yang paling ikonik? Suara radio tua yang menyala sejak jam lima pagi. Bunyinya kadang cempreng, tapi justru itu yang bikin khas.
Ada yang memutar berita pagi, ada pula yang setia dengan lagu campursari atau dangdut lawas.
Radio butut ini bukan cuma hiburan, tapi seperti alarm alami warga kampung tanda bahwa hari sudah dimulai.
Beberapa bapak tampak duduk di kursi depan rumah, menyeruput kopi sambil membaca atau sekadar ngobrol santai dengan tetangga.
Di pojok gang, ada anak-anak yang bersiap ke sekolah, lengkap dengan rambut disisir rapi dan tas diselempangkan.
Ritual pagi ini mungkin tampak sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itulah terasa hangatnya kehidupan kampung.
Di tengah gempuran modernitas, suara sapu lidi dan radio butut masih jadi bagian tak tergantikan dari pagi yang penuh kenangan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah