TULUNGAGUNG - Di tengah hiruk-pikuk kendaraan bermotor yang makin ramai di Tulungagung, suara pelan "kring... kring...".
Suara itu dari lonceng becak masih terdengar di sudut-sudut kampung dan kota Tulungagung.
Meski perlahan tergerus zaman, abang becak di Tulungagung tetap setia mangkal di tempat-tempat strategis dekat pasar, sekolah, atau perempatan lampu merah.
Bukan hanya alat transportasi, becak kini menjadi bagian dari kenangan dan kehangatan kota kecil ini.
Abang-abang becak di Tulungagung bukan hanya mengantar penumpang, tapi juga menyimpan cerita.
Ada yang sudah mengayuh pedal sejak tahun 80-an, ada pula yang dulunya pernah beralih profesi tapi kembali ke becak karena “lebih tenang, lebih kenal orang.”
Jalur favorit mereka biasanya rute kampung ke pasar, antar anak sekolah, atau ke rumah langganan yang sudah dianggap seperti saudara sendiri.
Banyak pelanggan tetap yang memilih naik becak bukan karena cepat, tapi karena nyaman.
Meski jumlahnya tak sebanyak dulu, becak tetap punya tempat tersendiri di hati warga Tulungagung.
Di era serba cepat ini, becak mengingatkan kita untuk menikmati perjalanan, bukan cuma tujuannya. Pelan, tapi bikin kangen.
Mereka para abang becak ini tetap mengais rezeki di sudut-sudut kota Tulungagung yang jadi tempat mangkal.
Harapannya hanya bisa mendapatkan kosumen dengan cepat untuk membawa pulang hasil kerja.
Hasil kerja akan diberikan ke anak serta istri yang menunggu di rumah sebagai tanggungjawab kepala rumah tangga. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah