Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nonton Wayang Kulit di Tulungagung sampai Subuh, Jadi Hiburan Langka yang Masih Ada

Yoga Dany Damara • Senin, 7 Juli 2025 | 16:30 WIB
Di era gadget dan tontonan digital di Tulungagung, masih ada hiburan rakyat yang bertahan dengan magisnya sendiri pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
Di era gadget dan tontonan digital di Tulungagung, masih ada hiburan rakyat yang bertahan dengan magisnya sendiri pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

TULUNGAGUNG - Di era gadget dan tontonan digital di Tulungagung, masih ada hiburan rakyat yang bertahan dengan magisnya sendiri pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Di Tulungagung, tradisi ini bukan sekadar tontonan, tapi peristiwa budaya yang menghidupkan malam dengan irama gamelan, suara dalang, dan hiruk pikuk warga yang berkumpul.

Biasanya, pertunjukan digelar di lapangan desa-desa di Tulungagung, halaman balai, atau rumah warga yang sedang punya hajat.

Sejak sore, warga sudah mulai sibuk. Tenda dipasang, layar putih dibentangkan, dan panggung kayu dirakit untuk para pengrawit dan dalang.

Lampu petromaks menyala terang, menambah suasana magis malam pedesaan.

Deretan gerobak mulai berdatangan penjual cilok, sate ayam, nasi jagung, sampai kacang rebus dan kopi hitam panas yang diseduh di gelas kaca.

Aroma makanan bercampur dengan angin malam dan jadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman nonton wayang.

Menjelang pukul delapan malam, suasana mulai penuh. Warga dari berbagai dusun berdatangan, sebagian duduk bersila di atas tikar, sebagian berdiri atau menyender di batang pohon.

Anak-anak kecil berlarian, lalu perlahan mengantuk dan tertidur di pangkuan ibunya atau di atas tikar. Suara gamelan dan kisah pewayangan mengiringi mereka menuju mimpi.

Dalang legendaris memegang kendali malam. Dengan suara yang bisa berubah-ubah lantang, parau, lembut, atau menggelegar ia membawa tokoh-tokoh seperti Arjuna, Semar, dan Petruk menjadi hidup.

Di antara adegan serius, selipan humor khas Jawa pun muncul dan mengundang tawa.

Menjelang subuh, sebagian penonton mulai berkemas. Tapi ada juga yang bertahan sampai adegan terakhir, menikmati setiap detik, meski mata sudah berat.

Suara ayam berkokok dan udara pagi yang dingin jadi penutup sempurna dari semalam penuh kisah.

Wayang kulit bukan sekadar pertunjukan, tapi warisan yang menyatukan warga, menghidupkan malam, dan menjadi ruang temu antar generasi.

Di Tulungagung, meski tidak sesering dulu, tradisi ini tetap hidup menjadi bukti bahwa hiburan rakyat punya daya magis yang tak lekang waktu. (*)

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Tontonan #wayang #tulungagung #warga