Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Asal Usul Reog Kendang Tulungagung, Ternyata Ada Tokoh Sakti di Baliknya

Argo Yanuar Pamudyo • Senin, 7 Juli 2025 | 19:30 WIB

Reog kendang asal Tulungagung kini masih lestari dan memiliki sejarah yang lama.
Reog kendang asal Tulungagung kini masih lestari dan memiliki sejarah yang lama.

TULUNGAGUNG - Pada zaman dahulu, di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Boyolangu, Tulungagung, hiduplah seorang tokoh sakti yang sangat mencintai seni dan kebudayaan bernama Ki Sentanu.

Ia merupakan murid terpilih dari seorang empu seni yang berasal dari Kerajaan Kediri, yang mengajarkan berbagai ilmu tari dan musik tradisional yang sarat makna dan nilai filosofi hingga pelosok Tulungagung.

Ki Sentanu memiliki keahlian khusus dalam memainkan alat musik kendang, yang ia yakini memiliki kekuatan magis untuk membangkitkan semangat juang warga Tulungagung saat itu dan keberanian bagi siapa saja yang mendengarnya.

Baca Juga: Reog Kendang Tulungagung, Bukan Sekadar Seni tapi Energi Budaya yang Menggelegar dan Tarian Maskulin Penuh Ledakan Tenaga

Di tengah situasi politik yang tidak kondusif, di mana penguasa kala itu melarang pertunjukan seni yang bersifat keras dan maskulin karena dikhawatirkan bisa memicu pemberontakan, Ki Sentanu menghadapi dilema besar.

Namun dengan kecerdikan dan ketulusan hatinya, ia kemudian merancang sebuah bentuk seni pertunjukan yang berbeda, yang tetap mampu menyampaikan pesan perjuangan dan semangat kebebasan tanpa harus menimbulkan kecurigaan.

Dalam upayanya tersebut, Ki Sentanu menciptakan sebuah tarian dengan gerakan yang lincah dan lemah gemulai, menyerupai gerak tarian perempuan, sehingga secara visual pertunjukan itu tampak lembut dan tidak mengancam.

Baca Juga: Lestarikan Tradisi Asli Tulungagung, Reog Kendang Kreasi Seniman Rejosari Naik Kelas

Namun, di balik kelembutan itu, terdapat kekuatan dahsyat dari irama tabuhan kendang yang mengiringi tarian tersebut hingga menjadi denyut nadi dan jiwa dari pertunjukan itu sendiri.

Menariknya, para penari yang membawakan tarian ini adalah para pria yang mengenakan busana dan dandanan perempuan, sebuah teknik penyamaran yang membuat pertunjukan ini menjadi unik dan penuh misteri.

Kesenian ini kemudian dikenal dengan nama “Reog Kendang,” berbeda dari Reog Ponorogo yang lebih maskulin dan berfokus pada topeng barongan.

Seiring waktu, Reog Kendang tidak hanya menjadi sebuah hiburan rakyat Tulungagung semata, melainkan juga sarana simbolik untuk menyampaikan kritik sosial dan semangat perlawanan terhadap penindasan.

Baca Juga: Inilah Reog Kendang Kesenian Tradiosional Asli Tulungagung

Tak hanya itu, seni Reog Kendang asal Tulungagung ini juga memiliki dimensi mistis yang kental.

Para penabuh kendang yang memainkan alat musik utama dalam pertunjukan ini diwajibkan menjalani ritual puasa dan tirakat yang ketat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan roh penjaga seni.

Keyakinan ini lahir dari pengalaman masyarakat Tulungagung bahwa suara kendang yang dimainkan tanpa kesiapan spiritual bisa kehilangan kekuatannya, bahkan menyebabkan gangguan seperti kendang menjadi “bisu” atau penari yang kerasukan roh gaib saat pentas berlangsung.

Oleh karena itu, ritual dan persiapan batin menjadi bagian yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian ini.

Baca Juga: Generasi Muda Tulungagung Bangkitkan Kesenian Tradisional: Tayub, Jaranan, dan Campursari

Dari cerita ini kita dapat menangkap sebuah pesan penting bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat perlawanan yang efektif dan tanpa kekerasan, yang mengandung nilai-nilai luhur serta sejarah perjuangan masyarakat Tulungagung yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

Reog Kendang Tulungagung menjadi bukti bahwa perpaduan antara kelembutan dan kekuatan, serta kecerdikan dalam menghadapi tekanan dan tantangan, dapat menciptakan sebuah warisan budaya yang kaya makna dan tetap relevan hingga masa kini. (*)

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#tulungagung #kesenian #reog kendang