TULUNGAGUNG - Setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat pesisir selatan Tulungagung merayakan tradisi sakral yang sudah diwariskan turun-temurun yang dinamakan Larung Sesaji atau dikenal juga sebagai Labuh Laut Sembonyo.
Ritual ini berlangsung meriah di Pantai Popoh, salah satu destinasi wisata pantai paling populer di Tulungagung.
Tahun 2025 ini, acara digelar pada 5 hingga 6 Juli, bertepatan dengan momen Suro yang dianggap sakral oleh masyarakat Tulungagung.
Ribuan warga, nelayan, tokoh adat, hingga wisatawan berkumpul untuk menyaksikan prosesi spiritual ini, yang tak hanya memancarkan nilai religius, tetapi juga menjadi wujud pelestarian budaya dan potensi wisata daerah Tulungagung.
Makna Tradisi Larung Sesaji di Pantai Popoh
Larung Sesaji berasal dari kata larung yang berarti melarungkan atau menghanyutkan, dan sesaji yang berarti persembahan.
Dalam konteks ini, masyarakat nelayan Tulungagung mempersembahkan sesaji berupa tumpeng, kepala kerbau, hasil bumi, dan sesajen lainnya ke laut selatan sebagai bentuk syukur atas berkah hasil laut dan permohonan keselamatan selama melaut.
Sesaji diarak dalam bentuk kirab budaya dari pendopo desa hingga dermaga, dengan iringan seni tradisional Tulungagung seperti jaranan dan musik gamelan.
Setelah itu, sesaji dilarungkan ke tengah laut menggunakan rakit kecil.
Bagi masyarakat Tulungagung, laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang harus dihormati.
Perpaduan Antara Kepercayaan dan Pelestarian
Bagi sebagian warga Tulungagung, Larung Sesaji diyakini memiliki kekuatan untuk menolak bala dan mendatangkan keberkahan.
Persembahan kepala kerbau dianggap simbol pengorbanan besar yang mampu "membersihkan" lautan dari mara bahaya.
Namun lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi sarana pelestarian budaya lokal.
Di tengah arus modernisasi, Larung Sesaji adalah cara masyarakat mempertahankan identitas budaya pesisir.
Tradisi ini bukan hanya ritual keagamaan atau adat, melainkan bentuk solidaritas sosial, gotong royong, dan kebanggaan kolektif masyarakat Tulungagung.
Magnet Wisata Budaya dan Ekonomi Lokal
Tahun demi tahun, Larung Sesaji di Pantai Popoh Tulungagung menarik perhatian tidak hanya warga lokal tetapi juga wisatawan dari luar daerah.
Hal ini menjadi peluang emas bagi Tulungagung untuk mengembangkan wisata budaya berbasis kearifan lokal.
Selama pelaksanaan upacara, pedagang kaki lima, pengrajin souvenir, dan pelaku UMKM Tulungagung merasakan peningkatan omzet.
Agar tradisi ini tidak hilang ditelan zaman, pelestarian Larung Sesaji harus melibatkan generasi muda.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung pun terus mendorong pengenalan budaya ini melalui pendidikan, festival budaya, serta kolaborasi dengan komunitas kreatif.
Digitalisasi juga mulai diterapkan, seperti dokumentasi video, siaran langsung di media sosial, hingga promosi lewat platform YouTube dan Instagram.
Harapannya, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku aktif dalam menjaga tradisi warisan leluhur ini.
Larung Sesaji di Pantai Popoh Tulungagung adalah warisan budaya yang tidak ternilai.
Tradisi ini merangkum unsur spiritual, sosial, dan ekonomi dalam satu peristiwa sakral yang hidup di tengah masyarakat pesisir Tulungagung.
Di era modern, keberlanjutan tradisi ini akan sangat bergantung pada sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan generasi muda.
Melestarikan Larung Sesaji berarti menjaga jati diri bangsa, sekaligus membangun potensi wisata budaya yang berkelanjutan.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz